Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jaga Selera Jemaah, 100 Ton Bumbu Nusantara Diekspor untuk Haji 2026
Contoh bumbu-bumbuan bercita rasa nusantara yang diekspor untuk mendukung Haji 2026 (Dok. Media Center Haji)
  • Sebanyak 100 ton bumbu dan makanan siap saji diekspor ke Arab Saudi untuk memastikan cita rasa Nusantara bagi jemaah haji Indonesia pada musim haji 2026.
  • Distribusi logistik total mencapai 230 ton, melibatkan sinergi antara petani rempah, UMKM, BUMN, PT Pos Indonesia, dan Garuda Indonesia guna menjaga kualitas serta ketepatan pengiriman.
  • Ekspor ini juga menjadi ajang uji coba produk lokal agar memenuhi standar Arab Saudi, memperkuat kapasitas industri dalam negeri, dan membuka peluang ekspor bagi UMKM Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tangerang, IDN Times – Pemenuhan kebutuhan logistik dan konsumsi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci terus dipersiapkan secara matang. Ratusan ton bumbu pasta dan makanan siap saji (Ready to Eat/RTE) produksi dalam negeri mulai diekspor ke Arab Saudi untuk menjamin ketersediaan makanan bercita rasa Nusantara pada musim haji 2026.

Pengiriman perdana logistik haji ini dilepas melalui Gudang Lini Garuda, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Kamis (2/4/2026). Pada pengiriman tahap awal ini, sebanyak 100 ton bumbu dan makanan siap saji akan diterbangkan secara bertahap menuju Arab Saudi.

1. Total kebutuhan logistik mencapai 230 ton

Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU), Jaenal Effendi (Dok. Media Center Haji)

Distribusi logistik untuk kebutuhan jemaah ini dijadwalkan berlangsung melalui sejumlah penerbangan sejak 2 hingga 6 April 2026. Secara keseluruhan, total kebutuhan logistik haji dari dua vendor yang terlibat mencapai 230 ton, di mana sisa 130 ton lainnya masih dalam proses penjadwalan penerbangan.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU), Jaenal Effendi, menegaskan bahwa fokus utama dari pengiriman ini adalah kepastian layanan dan kualitas konsumsi bagi Tamu Allah.

“Sebagai pengawal distribusi, Kemenhaj memastikan seluruh proses logistik haji memenuhi standar kehalalan, kesehatan, ketahanan produk, serta ketepatan waktu pengiriman, agar kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia terpenuhi dengan baik,” ujar Jaenal.

2. Penuhi Selera Jemaah, Berdayakan UMKM Lokal

Kolaborasi Kemenhaj, PT Pos Indonesia, dan Garuda Indonesia (Dok. Media Center Haji)

Rantai pasok logistik haji ini dirancang dengan mensinergikan berbagai elemen dari hulu ke hilir, mulai dari petani rempah, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Proses distribusi dikelola melalui kolaborasi dengan PT Pos Indonesia untuk manajemen rantai pasok dan PT Garuda Indonesia untuk armada pengiriman via jalur udara.

Pelibatan produk lokal ini diprioritaskan agar makanan yang disajikan sesuai dengan lidah jemaah haji Indonesia, sembari membuka akses produk UMKM domestik ke rantai pasok global. Seluruh produk yang dikirim dilaporkan telah melewati uji standardisasi ketat yang diakui secara internasional.

“Kami ingin memastikan ekosistem haji dan umrah tidak hanya berdampak pada layanan ibadah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi nyata bagi pelaku usaha di dalam negeri,” ungkap Jaenal.

3. Menjajal produk Indonesia dengan standar Arab Saudi

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Irfan Yusuf cek makanan untuk jemaah haji 2026. (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Selain untuk memenuhi ketersediaan makanan jemaah, proses ekspor logistik ini juga difungsikan sebagai wadah uji coba dan upaya peningkatan kapasitas industri lokal.

“Ini sekaligus menjadi test run dan capacity building, memastikan produk Indonesia mampu memenuhi standar Arab Saudi, mengurangi ketergantungan impor, serta menciptakan efisiensi biaya,” urainya.

Dengan ekosistem logistik yang terintegrasi ini, pemerintah berharap pelayanan terhadap jemaah haji Indonesia dapat berjalan optimal tanpa hambatan pemenuhan gizi, sekaligus membuktikan kualitas produk lokal di kancah internasional.

“Kegiatan ini menjadi pembuktian bahwa produk UMKM Indonesia mampu bersaing dan memenuhi standar global, khususnya untuk kebutuhan jemaah haji,” tutup Jaenal.

Editorial Team