Jakarta, IDN Times - Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak mengklarifikasi mengenai biaya pengeboran sumur di lokasi bencana di Sumatra yang disebutnya mencapai angka Rp150 juta. Maruli menggaris bawahi biaya Rp150 juta untuk pengeboran sumur dalam yang konsumsi airnya bisa dimanfaatkan oleh warga satu desa. Nominal tersebut bukan untuk pengeboran sumur yang konsumsi airnya untuk dimanfaatkan oleh penghuni satu rumah.
"Ini tuh (sumur air) barang kepentingannya (dikonsumsi) kadang-kadang oleh satu desa. Bukan untuk konsumsi satu rumah," ujar Maruli di Markas Satuan Angkutan Air TNI AD, Jakarta Utara pada Selasa (6/1/2026).
"Kalau hanya dipakai untuk satu rumah ya rumah saya saja di Bandung mungkin (biayanya) gak sampai Rp10 juta. Jadi, tuh air. Tapi kan itu untuk kepentingan satu keluarga saja," imbuhnya.
Klarifikasi itu disampaikan oleh jenderal bintang empat tersebut lantaran warganet di media sosial meributkan biaya bor sumur air yang mencapai Rp150 juta terlalu mahal. Pernyataan mengenai perkiraan biaya untuk pengeboran sumur air disampaikan oleh Kepala Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto dan Maruli dalam kunjungan ke Aceh Tamiang di penghujung tahun 2025.
Maruli mengatakan perkiraan biaya bor sumur itu bukan tanpa dasar. Sebab, ia sudah berpengalaman melakukan pengeboran sumur air di lebih dari 4.000 titik melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).
"Jadi, saya mengerti betul sedikit banyak bahwa air itu di bawah kantong-kantong air. Kalau tidak menemukan mata airnya, maka air itu pasti akan habis," tutur dia.
