Jakarta, IDN Times - Pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus semakin membingungkan publik. Pada Rabu kemarin, Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Letnan Jenderal TNI Yudi Abrimantyo disebut menyerahkan jabatannya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab buntut aksi anak buahnya yang berupaya membunuh Andrie.
Akademisi dari Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai dalam perspektif militer, langkah penyerahan jabatan Kepala Bais TNI kepada Panglima TNI mencerminkan pola klasik dalam manajemen krisis organisasi bersenjata. "Pola klasik itu yakni sentralisasi kendali untuk stabilisasi cepat," ujar Selamat di dalam keterangan tertulis pada Kamis (26/3/2026).
Di dalam struktur militer seperti satuan strategis seperti Bais TNI, kata Selamat, pelanggaran oleh personel tak pernah dianggap berdiri sendiri. Peristiwa itu akan dibaca sebagai potensi gangguan terhadap rantai komando, kohesi satuan, dan keamanan informasi.
"Maka, respons yang diambil bukan sekedar penindakan individual tetapi juga langkah struktural," tutur dia.
