Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kawal Lansia & Jemaah Risti, 45 Klinik Disiagakan di Tanah Suci
Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Madinah, Arab Saudi. (Media Center Haji/Rochmanudin)
  • Sekitar 25 persen jemaah haji Indonesia tergolong lansia dan 177 ribu lainnya berisiko tinggi

  • Pemerintah menyiapkan 45 klinik di Makkah dan Madinah sesuai rasio satu klinik per lima ribu jemaah, dilengkapi sistem rujukan berbasis tingkat keparahan penyakit.

  • Otoritas mengingatkan pentingnya kesiapan fisik jemaah melalui pola hidup sehat, olahraga rutin, tidur cukup, serta kepatuhan minum obat bagi yang memiliki penyakit komorbid.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M dihadapkan pada tantangan demografi jemaah yang membutuhkan perhatian medis ekstra. Tercatat, sekitar 25 persen jemaah haji asal Indonesia merupakan kelompok lanjut usia (lansia), dan 177 ribu jemaah lainnya masuk dalam kategori risiko tinggi (risti).

Merespons profil jemaah tersebut, skema pelayanan kesehatan di Tanah Suci tahun ini dirombak dan diperluas guna meminimalisasi angka fatalitas. Kepala Pusat Kesehatan Haji, Liliek Marhaendro Susilo, menjelaskan bahwa perluasan fasilitas ini juga sejalan dengan regulasi baru dari Pemerintah Arab Saudi yang menetapkan rasio pelayanan kesehatan yang lebih ketat. Saat ini, satu klinik kesehatan diwajibkan untuk melayani maksimal 5.000 jemaah haji.

1. Rasio 1 klinik untuk 5 ribu jemaah

Kepala Pusat Kesehatan Haji, Liliek Marhaendro Susilo (IDN Times/Yogi Fadila)

Untuk memenuhi rasio tersebut, pemusatan layanan kesehatan tidak lagi hanya bergantung pada satu titik.

"Dengan kebijakan ini, di Makkah akan didirikan 40 klinik kesehatan yang tersebar di 10 sektor untuk melayani jemaah. Sementara itu, di Madinah akan tersedia 5 klinik kesehatan di 5 sektor," urai Liliek, Senin (30/03/2026).

Selain klinik sektor, masing-masing satu unit Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) akan tetap beroperasi sebagai pusat kendali medis di Makkah dan Madinah. Pendistribusian obat-obatan selama operasional haji juga akan dipusatkan dari KKHI menuju seluruh tenaga kesehatan kloter yang bersiaga di hotel-hotel jemaah.

2. Sistem rujukan berbasis tingkat keparahan penyakit

Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak ketika meninjau langsung kesiapan Saudi German Hospital di Makkah pada Minggu (29/03/2026). (Dok. Media Center Haji)

Guna menghindari keterlambatan penanganan pada kondisi gawat darurat, tenaga kesehatan kelompok terbang (kloter) kini dibekali pedoman rujukan berbasis tingkat keparahan penyakit (severity level). Pedoman ini menjadi indikator pasti bagi petugas untuk mengambil keputusan apakah jemaah cukup ditangani di KKHI atau harus dievakuasi langsung ke rumah sakit milik Arab Saudi.

"Pendekatan severity level ini penting agar jemaah mendapatkan pertolongan yang cepat dan sesuai dengan kondisi kesehatannya," kata Liliek.

Sebagai jaminan mutu layanan, otoritas Arab Saudi juga mewajibkan adanya supervisi dari penyedia layanan kesehatan swasta yang terakreditasi. Tahun ini, pengawasan layanan kesehatan bagi jemaah Indonesia dipercayakan kepada Saudi German Hospital.

Terkait kolaborasi ini, Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak telah meninjau langsung kesiapan Saudi German Hospital di Makkah pada Minggu (29/03/2026).

“Isu kesehatan haji adalah isu utama dari tahun ke tahun, mengingat sekitar 25 persen jemaah haji Indonesia adalah lansia dan 177 ribu lainnya masuk kategori risiko tinggi. Karena itu, model pelayanan kesehatan harus banyak berubah,” tegas Dahnil.

Lebih lanjut, Dahnil menekankan pentingnya pengawalan kesehatan pada fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) yang sangat menguras fisik.

“Kami akan memaksimalkan klinik satelit dan mobile clinic di Armuzna untuk melayani dan mengawasi kesehatan jemaah secara lebih optimal,” lanjutnya.

3. Persiapan fisik jemaah jadi kunci

Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Madinah, Arab Saudi. (Media Center Haji/Rochmanudin)

Di luar persiapan infrastruktur, pemerintah mengingatkan bahwa pertahanan utama berada pada kondisi fisik jemaah itu sendiri. Liliek mengimbau para calon jemaah yang masih di Tanah Air untuk disiplin menerapkan pola hidup sehat sebelum jadwal keberangkatan.

Jemaah dianjurkan untuk rutin berolahraga ringan minimal 30 menit setiap hari, tidur cukup minimal enam jam, serta mengonsumsi makanan bergizi.

“Selain itu, jemaah perlu istirahat cukup, minimal enam jam tidur setiap malam, serta menjaga pikiran tetap positif,” tambah Liliek. Bagi jemaah komorbid, kepatuhan dalam meminum obat sesuai resep dokter adalah hal yang mutlak.

Editorial Team