Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Agenda OUTLOOK MEDIA 2026 | Memandang Masa Depan Media : Sinergi Bisnis, Tren Periklanan, dan Integritas oleh Dewan Pers di Kantor Dewan Pers, Jakarta.
Agenda OUTLOOK MEDIA 2026 | Memandang Masa Depan Media : Sinergi Bisnis, Tren Periklanan, dan Integritas oleh Dewan Pers di Kantor Dewan Pers, Jakarta. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Intinya sih...

  • Forum Outlook Media 2026 membahas perubahan peran pers

  • Pers sebagai reflektor kebijakan pemerintah dan aspirasi masyarakat

  • Komarudin menyoroti pergeseran pola komunikasi pers di era digital

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Pers, Prof. Komarudin Hidayat, menyoroti perubahan peran pers di era digital, termasuk tantangan kepercayaan publik, pergeseran pola komunikasi, serta pengaruh media sosial terhadap ekosistem informasi.

Hal tersebut disampaikan Prof. Komarudin Hidayat dalam kegiatan Outlook Media 2026 yang digelar Dewan Pers.

“Hari ini forum ini sebenarnya forum para peserta, forum anda semuanya. Para pembicara sifatnya hanya mengantarkan, membuka wacana, tapi pada akhirnya anda semua yang nanti akan membahas dan melanjutkan,” kata Komarudin di kantor Dewan Pers, Kamis (5/2/2026).

1. Jadi gambaran ke depan soal kondisi pers

ilustrasi jurnalis (IDN Times/Arief Rahmat)

Dia menjelaskan, forum itu sengaja diselenggarakan di awal tahun untuk memberikan orientasi dan gambaran ke depan mengenai kehidupan pers. Menurutnya, pers memiliki fungsi sebagai reflektor yang memantulkan apa yang terjadi di pemerintah maupun di masyarakat.

“Jadi apa yang terjadi pada pemerintah, kebijakan, prestasi, keberhasilan, mungkin beberapa penyimpangan yang terjadi, kemudian dipantulkan oleh media masa, buat masyarakat,” kata dia.

2. Pers berperan sebagai medium yang memantulkan realitas

Agenda OUTLOOK MEDIA 2026 | Memandang Masa Depan Media : Sinergi Bisnis, Tren Periklanan, dan Integritas oleh Dewan Pers di Kantor Dewan Pers, Jakarta. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Dia mengatakan, pers disebut sebagai pilar keempat demokrasi karena menjadi penghubung antara aspirasi masyarakat dan kebijakan pemerintah. Namun, Komarudin menilai pola tersebut mengalami perubahan besar seiring perkembangan era digital.

“Dan kalau kita dituntut bagaimana membangun trust pada pers, sengguhnya itu ada catatan kaki di situ,” kata dia.

Komarudin mengatakan kepercayaan sejatinya diharapkan terbangun antara pemerintah dan masyarakat, sementara pers berperan sebagai medium yang memantulkan realitas secara profesional dan beretika.

“Tapi ketika kemudian terjadi disrupsi seperti ini, memang akan dan sudah muncul berbagai pertanyaan. Kepada siapa kami percaya? Mengapa?” katanya.

3. Pers dari institusi publik menjadi entitas bisnis

Ilustrasi jurnalis (IDN Times/Lia Hutasoit)

Komarudin menilai, kemunculan media sosial telah menggeser posisi pers sebagai pengendali utama arus informasi. Jika sebelumnya pers berperan sebagai gatekeeper, kini masyarakat memiliki medium sendiri yang bebas dan masif.

Dia juga menyinggung perubahan orientasi pers, dari institusi publik menjadi entitas bisnis, hingga kini kerap dimanfaatkan sebagai medium ambisi politik melalui buzzer dan agenda tertentu.

“Dan tema-tema seperti inilah yang nanti akan kita bicarakan hari ini,” ujarnya.

Ke depan, Komarudin menyebut pentingnya merumuskan peta jalan yang jelas melalui pendekatan keep, drop, create dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, komunitas pers, masyarakat, dan Dewan Pers sebagai ruang orkestrasi gagasan.

“Dewan pers di sini lebih sebagai apa ya, mungkin orkestrasi sebisa mungkin,” katanya.

Editorial Team