Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2026-01-31 at 16.14.38.jpeg
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf (IDN Times/Triyan).

Intinya sih...

  • Ketua PBNU, Gus Yahya, menjelaskan alasan ketidakhadiran Presiden Prabowo dan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dalam puncak peringatan Harlah ke-100 NU di Istora Senayan, Jakarta.

  • Presiden Prabowo berhalangan hadir karena tugas negara lain, sementara Rais Aam tidak dapat hadir karena masalah kesehatan. Keduanya diwakili oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan salah satu Rais Syuriyah PBNU Nasaruddin Umar.

  • Gus Yahya menegaskan bahwa PBNU telah melakukan koordinasi intensif dengan pihak kepresidenan untuk mempersiapkan kehadiran Presiden Prabowo dalam acara tersebut.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menjelaskan alasan ketidakhadiran Presiden Prabowo Subianto dan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dalam puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama (NU).

Acara puncak Harlah ke-100 NU tersebut digelar di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (31/1/2026). Presiden Prabowo sebelumnya dijadwalkan hadir dalam agenda bersejarah tersebut.

Bahkan, Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) terlihat telah bersiaga di lokasi sejak beberapa jam sebelum acara dimulai. Namun, hingga acara berlangsung, Presiden Prabowo tidak tampak hadir.

1. Presiden Prabowo berhalangan hadir karena ada keperluan tugas

Ketua Umum PBNU, Yahya Cholis Staquf (Gus Yahya). (IDN Times/Amir Faisol)

Gus Yahya menegaskan, PBNU telah melakukan koordinasi intensif dengan pihak kepresidenan untuk mempersiapkan kehadiran Presiden Prabowo dalam puncak Harlah ke-100 NU.

“Sejak kemarin, kami sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait kepresidenan, seperti Paspampres, protokol Istana, dan lain-lain. Semua hal teknis yang diperlukan untuk kedatangan beliau telah kami persiapkan,” kata Gus Yahya dalam konferensi pers, Sabtu (31/1/2026).

Namun, menjelang acara dimulai, PBNU menerima informasi bahwa Presiden Prabowo berhalangan hadir karena harus menjalankan tugas negara lain di waktu yang bersamaan.

“Pada saat terakhir, beliau berhalangan hadir karena ada tugas negara lain yang harus dijalankan. Kami mendengar ada beberapa kegiatan kenegaraan terkait tamu negara yang hadir pada hari ini,” bebernya.

2. Ketua MPR bisa hadir dalam acara puncak Harlah ke-100 NU

Ketua MPR, Ahmad Muzani pada puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 NU yang digelar di Istora Senayan, Jakarta Pusat. (IDN Times/Triyan).

Meski Presiden Prabowo tidak dapat hadir langsung, Gus Yahya menyampaikan kehadiran kepala negara diwakili Ketua MPR RI Ahmad Muzani.

Menurut Gus Yahya, Ahmad Muzani hadir dan menyampaikan sambutan serta amanat dalam resepsi puncak peringatan Harlah ke-100 NU.

“Alhamdulillah, Ketua MPR RI, Bapak Ahmad Muzani, hadir dan kami minta beliau untuk menyampaikan sambutan serta amanat dalam resepsi peringatan Harlah ini,” ujarnya.

3. Rais Aam tidak hadir karena ada masalah kesehatan

puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 NU yang digelar di Istora Senayan, Jakarta Pusat. (IDN Times/Triyan).

Selain Presiden Prabowo, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar juga tidak dapat menghadiri acara tersebut. Gus Yahya menjelaskan, pihaknya menerima informasi mengenai kondisi kesehatan Rais Aam sejak Jumat malam.

“Untuk Rais Aam, Kiai Haji Miftachul Akhyar, kami mendapat kabar semalam bahwa beliau seharusnya hadir, namun karena masalah kesehatan, beliau tidak bisa datang,” kata Gus Yahya.

Sebagai pengganti, amanat yang biasanya disampaikan oleh Rais Aam PBNU diserahkan kepada salah satu Rais Syuriyah PBNU yang juga menjabat Menteri Agama, Nasaruddin Umar.

“Amanat yang biasa disampaikan oleh Rais Aam, kali ini diwakili oleh salah seorang Rais Syuriyah, yaitu Profesor Doktor Kiai Haji Nasaruddin Umar, yang juga Menteri Agama Republik Indonesia,” tutur Gus Yahya.

Editorial Team