Harlah ke-100 NU, Menag Nasaruddin Umar Soroti Ancaman Multiple Shock

- Nahdlatul Ulama diminta melakukan penyesuaian strategi
- NU perlu kombinasi yang seimbang antara figur pemimpin visioner dan figur manajer untuk kelola organisasi
- Sejumlah menteri kabinet merah putih hadir di Harlah ke-100 NU
Jakarta, IDN Times - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan Nahdlatul Ulama (NU) dihadapkan pada tantangan besar di masa depan, seiring perubahan zaman yang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat dalam mempersiapkan diri.
"Akibatnya apa yang terjadi? Terjadilah multiple shock. Ada theological shock, ada cultural shock, ada political shock, ada economical shock, bahkan apalagi ada scientifical shock," ungkap Nasaruddin Umar dalam peringatan Harlah ke-100 tahun NU di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
1. Nahdlatul Ulama diminta melakukan penyesuaian strategi

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut Nahdlatul Ulama untuk melakukan penyesuaian strategi, terutama dalam pola kepemimpinan dan manajemen organisasi.
Ke depan, NU dinilai perlu lebih menekankan hadirnya figur-figur manajer yang mengedepankan kerja kolektif atau superteam, dengan menonjolkan kekuatan kebersamaan (the power of we).
"Nahdlatul Ulama sudah waktunya kita lebih menekankan figur-figur manajer yang senantiasa akan mengedepankan superteam, atau the power of we," tegasnya.
2. NU perlu kombinasi yang seimbang antara figur pemimpin visioner dan figur manajer untuk kelola organisasi

Menurutnya pada masa lalu (NU) banyak ditopang oleh figur-figur pemimpin kharismatik dengan kapasitas luar biasa, layaknya sosok pemimpin dengan “kekuatan super”. Namun, perubahan situasi dan kompleksitas tantangan saat ini menuntut pendekatan yang berbeda.
"Mungkin di masa lampau kita sudah sangat bersyukur hadir figur-figur leader kita yang sangat kita kenal memiliki kapasitas mirip-mirip dengan Superman, memiliki superpower yang sangat tinggi," tegasnya.
Oleh karena itu, NU ke depan memerlukan kombinasi yang seimbang antara figur pemimpin visioner dan figur manajer yang mampu mengelola organisasi secara adaptif, kolaboratif, dan responsif terhadap dinamika zaman.
3. Sejumlah menteri kabinet merah putih hadir di Harlah ke-100 NU

Sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (31/1/2026).
Harlah satu abad NU kali ini mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia.”
Sejumlah pejabat negara tampak hadir di lokasi acara, di antaranya Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno serta Menteri Agama Nasaruddin Umar, kemudian Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid yang duduk bersebelahan dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf.
Turut hadir pula istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Wahid, bersama kedua putrinya, Yenny Wahid dan Alissa Wahid. Selain itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamuddin juga terlihat menghadiri acara tersebut.
Semula Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri acara puncak peringatan Harlah ke-100 NU. Namun, berdasarkan pantauan IDN Times, Prabowo batal menghadiri acara.


















