Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WANSUS: Kisah Ana Merajut Tali Kasih Anak Adopsi Temukan Keluarganya
Sejumlah remaja berkumpul mengikuti Posyandu Remaja di kompleks Rumah Susun Pekunden Semarang, Sabtu (15/7/2023). (IDN Times/Dhana Kencana)
  • Ana Maria van Vallen, anak adopsi asal Indonesia yang dibesarkan di Belanda, kembali ke tanah air untuk mencari ibu kandungnya dan kini membantu ratusan adoptee menemukan keluarga biologis mereka.
  • Komunitas yang ia dirikan berkembang lintas negara, menghadapi tantangan seperti dokumen palsu, perubahan wilayah, hingga penolakan keluarga, sambil memanfaatkan media sosial untuk mempertemukan kembali keluarga yang terpisah.
  • Ana menyoroti pentingnya memahami identitas dan masa lalu bagi anak adopsi internasional serta menyerukan dukungan pemerintah agar diaspora dapat lebih mudah kembali dan berakar di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
usia 2,5 tahun

Ana Maria van Vallen diambil dari panti asuhan di Jakarta dan diadopsi ke Belanda.

usia 12 tahun

Ana mulai ingin mengetahui siapa orang tua kandungnya.

usia 18 tahun

Ana kembali ke Indonesia untuk pertama kalinya dan berhasil menemukan ibu serta ayah kandungnya.

10 tahun terakhir

Ana membantu ratusan anak adopsi lintas negara menelusuri keluarga biologis mereka melalui komunitas yang ia dirikan.

kini

Ana terus mengadvokasi isu identitas dan adopsi internasional, membangun kesadaran publik serta mendorong kemudahan bagi diaspora untuk tinggal di Indonesia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Ana Maria van Vallen, seorang perempuan asal Indonesia yang diadopsi ke Belanda, kembali ke tanah kelahirannya untuk mencari ibu kandung dan membantu anak adopsi lintas negara menemukan keluarga biologis mereka.
  • Who?
    Ana Maria van Vallen bersama komunitas anak adopsi internasional, dibantu oleh kreator lokal seperti Harvi dan Pandu dari Apayah Kreatif dalam menyebarkan informasi melalui media sosial.
  • Where?
    Kegiatan pencarian dan pendampingan dilakukan di Indonesia serta berbagai negara seperti Belanda, Swedia, Prancis, Islandia, Amerika Serikat, dan Australia.
  • When?
    Pencarian Ana dimulai sejak ia berusia 18 tahun dan terus berlanjut selama sekitar sepuluh tahun terakhir hingga saat ini masih aktif dilakukan.
  • Why?
    Ana ingin membantu para adoptee memahami identitas diri mereka serta mempertemukan kembali keluarga yang terpisah akibat proses adopsi internasional yang sering disertai dokumen tidak akurat atau kehilangan data.
  • How?
    Melalui komunitas lintas negara, penggunaan media sosial seperti Instagram Reels, pengumuman radio, serta penelitian lapangan untuk menelusuri data DNA dan alamat lama guna menemukan kecocokan keluarga biologis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ana waktu kecil diambil dari panti asuhan di Jakarta dan dibawa ke Belanda. Dia lalu besar dan ingin cari mama papanya di Indonesia. Setelah ketemu, dia bantu banyak orang lain yang juga mau cari keluarganya. Kadang susah karena data salah atau keluarga pindah. Sekarang Ana punya komunitas untuk bantu anak adopsi menemukan asalnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kisah Ana menunjukkan bagaimana pengalaman pribadi yang penuh tantangan dapat berubah menjadi kekuatan untuk membantu orang lain. Melalui komunitas yang ia bangun, banyak anak adopsi lintas negara mendapat kesempatan menemukan kembali keluarga dan identitas mereka. Upaya ini juga memperlihatkan bahwa empati, teknologi, dan kerja sama lintas budaya mampu menumbuhkan harapan di tengah kompleksitas pencarian asal-usul.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pencarian identitas bagi anak adopsi lintas negara bukan sekadar menemukan keluarga, tetapi juga menghadapi trauma, kehilangan, dan pertanyaan tentang asal-usul. Hal ini dialami Ana Maria van Vallen, yang diadopsi ke Belanda sejak usia 2,5 tahun dan kembali ke Indonesia untuk mencari ibu kandungnya.

Selama 10 tahun terakhir, dia membantu ratusan orang dengan pengalaman serupa menelusuri keluarga biologis mereka. Namun, proses ini tidak selalu mudah. Dokumen palsu, perubahan wilayah, hingga penolakan keluarga menjadi tantangan nyata. Selain itu, persoalan identitas dan kewarganegaraan juga memperumit perjalanan mereka. Dalam wawancara ini, Ana berbagi pengalaman pribadi sekaligus realitas kompleks di balik praktik adopsi internasional.

Wawancara dengan Ana dilakukan dalam bahasa Inggris, IDN Times melakukan translate tanpa mengurangi atau mengganti apapun makna pernyataan dan jawaban Ana.

1. Apa yang menjadi titik awal di balik pembuatan komunitas ini, serta kenapa isu pencarian orang tua biologis penting bagi Anda?

Saya berusia 2,5 tahun ketika saya diambil dari sebuah panti asuhan di Jakarta dan dibawa ke Belanda. Ketika saya berusia 12 tahun sebagai remaja, saya ingin mengetahui siapa orang tua kandung saya. Dan pada usia 18 tahun saya kembali untuk pertama kalinya ke Indonesia dan saya menemukan keluarga saya. Seorang ibu dan seorang ayah.

Karena saya sendiri tahu bagaimana rasanya mengetahui identitas Anda dan saya beruntung dapat menemukan keluarga saya dan saya berharap semua orang dapat menemukannya karena itu adalah bagian dari identitas Anda, siapa diri Anda sebenarnya.

2. Bagaimana komunitas ini berkembang dan akhirnya menjangkau orang-orang di luar negeri, serta apa tantangan terbesarnya?

Kami memulai dengan sebuah komunitas di Belanda, tetapi segera berkembang dengan para adoptee dari Swedia, Prancis, Islandia karena mereka datang ke Eropa dengan organisasi yang sama. Sekarang juga adoptee di Amerika dan Australia menghubungi kami. Kami membuat komunitas di Indonesia untuk menjangkau keluarga di sini. Kami juga menciptakan kesadaran tentang adopsi.

Ketika kami tidak dapat menemukan karena data yang salah, tidak ada kecocokan DNA. Orang-orang pindah karena transmigrasi. Bangunan modern menggantikan alamat lama. Ada tabu, jadi terkadang orang tidak menceritakan semuanya.

3. Apa peran media sosial, terutama Instagram Reels, dalam mempertemukan kembali orang dengan keluarga mereka?

Kami ingin memberikan sedikit informasi pribadi untuk meningkatkan kesadaran. Harvi dan Pandu dari Apayah Kreatif membuat reels. Suatu kali kami memposting di pagi hari dan pada siang hari seorang saudara dari adoptee menelepon. Jadi kami menyelesaikan satu kasus dalam 1 hari. Terkadang kami mendapatkan petunjuk dan perlu melakukan penelitian. Melihat apakah itu benar-benar benar, karena ada juga orang yang ingin memanfaatkannya.

4. Bisakah Anda berbagi satu cerita yang paling membekas bagi Anda?

Ketika kami menemukan, terkadang anggota keluarga terlihat mirip. Itulah mengapa foto juga penting. Seorang ibu menyimpan foto bayi di bawah bantalnya selama bertahun-tahun. Seorang ibu tidak pernah melupakan anaknya. Seorang ibu mengingat nama yang ia berikan berbeda dengan nama sekarang dan pingsan ketika kami mencarinya.

Kami juga menemukan melalui pengumuman radio, atasan mendengarkan radio. Hal yang juga spesial adalah seorang adoptee menemukan bahwa ia memiliki saudara kembar, pada saat ia lahir sang ibu hanya bisa merawat 1 bayi.

Namun hal yang menyedihkan adalah kami juga menemukan bahwa dokumen itu adalah kebohongan, bahwa seorang ibu memberikan bayinya dan diberi tahu bahwa bayinya meninggal.

5. Apa yang biasanya dirasakan orang ketika akhirnya bertemu keluarga setelah sekian lama? Serta dari mereka tumbuh di luar negeri, bagaimana mereka paham identitas sebagai seorang Indonesia?

Mereka merasa berbeda, sedih, bahagia. Anda terpisah dalam waktu yang lama. Bahasa, budaya, agama sangat banyak perbedaannya. Ikatan keluarga hilang selama bertahun-tahun. Muncul beberapa struktur keluarga dan tradisi yang tidak pernah Anda ketahui. Tetapi ada juga pengenalan, ikatan darah. Terkadang orang tua sudah meninggal, itu juga sangat menyedihkan.

Di Belanda misalnya kami mengadakan pertemuan sehingga kami bisa berbagi latar belakang kami. Kami pergi ke Pasar Malam yang diselenggarakan oleh KBRI tetapi tidak pernah sama seperti di Indonesia.

Jadi sebenarnya Anda hanya bisa mengetahuinya ketika Anda berada di sini. Dan ketika Anda di sini ada beberapa kesulitan juga tentang identitas tetapi juga birokrasi karena awalnya kami dianggap sebagai WNA dan sekarang sebagai diaspora. Tetapi kami tidak pernah memilih sendiri untuk tinggal di luar negeri. Kami berharap pemerintah dapat mempermudah untuk tinggal di sini karena leluhur kami adalah orang Indonesia.

6. Apakah ada cerita yang tidak berakhir seperti yang diharapkan?serta apa arti “pulang” yang sebenarnya bagi orang-orang dalam perjalanan ini?

Bagaimana Anda mendukung mereka dalam situasi tersebut?

Ya, ketika orang tua menyangkal keberadaan anak tersebut padahal kami yakin mereka adalah orang tuanya. Ini sangat menyakitkan, penolakan tersebut.

Atau mereka memiliki pola pikir bahwa Anda kaya sehingga mereka menggunakan Anda sebagai ATM. Ikatan alami hilang.

Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, itu adalah perasaan yang tubuh Anda masih ingat tetapi pikiran Anda mungkin sudah lupa.

Pada akhirnya, juga akan ada pesan penutup untuk pembaca. Orang-orang mengatakan Anda memiliki kehidupan yang baik, lihatlah masa depan. Tetapi Anda harus mengetahui masa lalu Anda untuk melangkah lebih jauh. Temukan siapa diri Anda sebenarnya, karena Anda mendapatkan identitas lain yang diambil dari Anda.

Ini sangat menakutkan tetapi itulah yang kami sebut penyembuhan. Karena sejak awal kami dipisahkan.

Menjadi kaya juga tidak berarti Anda bahagia atau beruntung. Ada trauma bagi anak dan ibu juga. Banyak yang berjuang dengan kesehatan dan identitas mereka. Cobalah benar-benar mendengarkan seorang adoptee. Beberapa adoptee tidak cocok dengan orang tua baru atau sistem suatu negara. Itu tidak alami. Kami tidak pernah tahu apa yang terjadi ketika kami berada di Indonesia.

Tetapi saya percaya keluarga harus dibantu untuk mempertahankan anak dan membesarkannya dengan cara yang sehat. Masyarakat, Indonesia harus menjaga anak-anaknya.

Dan di Belanda saya berkulit cokelat dan tumbuh dengan orang kulit putih. Masih ada rasisme di sana. Tetapi ketika saya kembali ke sini saya juga melihat pola pikir kolonial. Saya ingin mengatakan karena saya bisa berbicara dari pengalaman bahwa negara kulit putih dan Barat tidak selalu berarti lebih baik.

Editorial Team