Jakarta, IDN Times - Pencarian identitas bagi anak adopsi lintas negara bukan sekadar menemukan keluarga, tetapi juga menghadapi trauma, kehilangan, dan pertanyaan tentang asal-usul. Hal ini dialami Ana Maria van Vallen, yang diadopsi ke Belanda sejak usia 2,5 tahun dan kembali ke Indonesia untuk mencari ibu kandungnya.
Selama 10 tahun terakhir, dia membantu ratusan orang dengan pengalaman serupa menelusuri keluarga biologis mereka. Namun, proses ini tidak selalu mudah. Dokumen palsu, perubahan wilayah, hingga penolakan keluarga menjadi tantangan nyata. Selain itu, persoalan identitas dan kewarganegaraan juga memperumit perjalanan mereka. Dalam wawancara ini, Ana berbagi pengalaman pribadi sekaligus realitas kompleks di balik praktik adopsi internasional.
Wawancara dengan Ana dilakukan dalam bahasa Inggris, IDN Times melakukan translate tanpa mengurangi atau mengganti apapun makna pernyataan dan jawaban Ana.
