Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Para Pemuda Desa Pemburu Negeri Sakura
Desa Tunjungmuli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. (IDN Times/Hilma Maulida Safira)
  • Desa Tunjungmuli di Purbalingga mengalami tren baru, banyak pemuda kini merantau ke Jepang sebagai tenaga kerja migran menggantikan tujuan lama ke Malaysia.
  • Kisah keluarga Basor dan Soni menunjukkan keberhasilan ekonomi dari kiriman uang para cucu dan anak mereka yang bekerja di berbagai sektor di Jepang.
  • Minat generasi muda seperti Izul untuk bekerja di Jepang terus meningkat, meski membutuhkan biaya sekitar Rp70 juta untuk pelatihan dan pengurusan dokumen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Purbalingga, IDN Times - Indonesia merupakan salah satu negeri pahlawan devisa terbanyak di Asia, tak heran jika banyak pemuda di desa merantau ke negeri jiran. Tunjungmuli salah satunya, sebuah desa terpencil di Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Pemuda di Desa Tunjungmuli tidak sedikit yang merantau sebagai tenaga kerja migran di Jepang, sejak lima tahun belakangan. Ada sedikit pergeseran tren, jika 10 tahun lalu banyak pemuda di desa ini merantau ke Malaysia, kini beralih ke Negeri Sakura.

1. Satu keluarga bekerja di Jepang

Suasana di Dusun Tobong Timur, tempat para pemuda bekerja di Jepang. (IDN Times/Rochmanudin)

Basor, kakek 75 tahun itu mengaku punya empat cucu bekerja di Jepang sejak dua tahun lalu. Mereka bekerja di berbagai bidang, mulai pertanian, bengkel, rumah tangga, hingga pabrik.

"Alhamdulillah, cucu yang pertama berangkat anaknya Simar sudah beli kebun dan sawah seharga Rp250 juta," ujar Basor, saat ditemui IDN Times di Dusun Tobong Timur, Desa Tunjungmuli, Senin, 23 Maret 2026.

Setiap bulan, cucu Basor rata-rata bisa mengirimkan uang kepada keluarganya Rp10 juta. Mereka memang belum ada yang berkeluarga dan hanya lulusan SLTA serta SLTP.

"Lulus sekolah dari pada nganggur di rumah, mending berangkat ke Jepang," ujarnya.

2. Soni berangkatkan anaknya ke Negeri Sakura

Soni dan Riyah saat mengantarkan putranya, Adnan, berangkat ke Jepang. (Istimewa)

Soni, yang juga tetangga Basor, juga telah memberangkatkan putranya, Adnan, dua tahun yang lalu. Bapak lima anak itu tergiur penghasilan tinggi bekerja di Negeru Sakura.

"Ya siapa tahu rejekinya di sana," ujar pria 65 tahun itu, saat ditemui IDN Times, pada hari yang sama.

Di Jepang, Adnan bekerja sesuai keahliannya sebagai montir. Terkadang, Adnan juga mengoperasikan helikopter.

"Alhamdulillah ketemu bos baik, kerjanya di bengkel, kadang nyopir, malahan katanya suka disuruh bawa helikopter, sama bosnya diajarin," ujar istri Riyah, istri Soni.

Beruntung, Adnan juga dapat jodoh orang Indonesia yang juga bekerja di Jepang. Dia akan menikah tahun depan.

"Insyaallah tahun depan (menikah)," ujar Riyah.

3. Lulusan pesantren juga tertarik bekerja di Jepang

Suasana di Dusun Tobong Timur, Desa Tunjungmuli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. (IDN Times/Rochmanudin)

Tak hanya itu, Izul, pemuda yang juga baru lulus SLTA dan pulang dari pesantren, juga tertarik bekerja di Jepang. Ayahnya yang juga mantan pekerja di Malaysia pun mendukungnya.

Izul kini sedang mempersiapkan dokumen untuk mengikuti pendidikan sekitar tiga hingga enam bulan, sebelum berangkat ke Jepang.

"Baru mau buat dokumen, ini kemaren ke balaidesa," ujar pemuda 19 tahun itu, bersemangat.

Sementara, untuk modal bekerja di Jepang, tidak hanya butuh ketrampilan, tetapi juga biaya pendidikan. Rata-rata tiap pemuda di Desa Tunjungmuli mengeluarkan uang sekitar Rp70 juta.

"Ya, rata-rata cucu saya habis Rp70 juta buat ngurus semuanya ke Jepang," ujar Basor, menutup obrolan.

Editorial Team