Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kisah Thalhah bin Ubaidillah, Sahabat Rasulullah Berjuluk Al-Qarinaini

Kisah Thalhah bin Ubaidillah, Sahabat Rasulullah Berjuluk Al-Qarinaini
Ilustrasi Kota Makkah pada era kenabian (Nano Banana/Rochmanudin)
Intinya Sih
  • Thalhah bin Ubaidillah termasuk delapan orang pertama yang memeluk Islam dan dijuluki Al-Qarinaini setelah disiksa bersama Abu Bakar oleh kaum Quraisy.
  • Meskipun tidak ikut Perang Badar karena urusan dagang, Rasulullah tetap memberinya bagian rampasan perang dan pahala setara para pejuang di medan laga.
  • Dalam Perang Uhud, Thalhah melindungi Rasulullah dengan tubuhnya hingga terluka parah, membuat Nabi menyebutnya sebagai syahid yang berjalan di atas bumi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman adalah sahabat Nabi Muhammad salallahu'alaihi wasallam dari kabilah Bani Taim bin Murrah, menempati kedudukan yang sangat istimewa.

Mengutip Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam (Edisi Lengkap), Thalhah bukan sekadar pengikut Rasulullah salallahu'alaihi wasallam, melainkan pilar kekuatan yang telah mengabdikan jiwanya sejak fajar dakwah menyingsing di Makkah.

1. Dua orang yang terikat (Al-Qarinaini)

Kisah Thalhah bin Ubaidillah, Sahabat Rasulullah Berjuluk Al-Qarinaini
Ilustrasi Kota Makkah pada masa lampau. (Nano Banana 2/Rochmanudin)

Hidayah menyentuh hati Thalhah melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq, menjadikannya satu dari delapan orang pertama yang memeluk Islam.

Namun, jalan iman tidaklah mudah. Keislamannya memicu amarah kaum Quraisy, terutama Naufal bin Khuwailid, yang dikenal sebagai salah satu 'setan' Quraisy.

Naufal menyekap dan mengikat Thalhah bersama Abu Bakar dalam satu ikatan tali yang kuat, demi menyiksa mereka.

Karena peristiwa dramatis inilah, mereka berdua dikenal dengan julukan Al-Qarinaini atau "dua orang yang selalu berpasangan dalam satu ikatan".

2. Pahala jihad tanpa medan Perang Badar

Kisah Thalhah bin Ubaidillah, Sahabat Rasulullah Berjuluk Al-Qarinaini
Ilustrasi perang Badar (Nano Banana 2/Rochmanudin)

Saat genderang Perang Badar bertalu, Thalhah secara fisik tidak berada di medan laga, karena tengah menjalankan urusan perniagaan di Syam (sekarang Suriah, Syria, Palestina, Yordania, dan Lebanon).

Meskipun demikian, Rasulullah salallahu'alaihi wasallam memberikan penghormatan yang luar biasa, sekembalinya Thalhah ke Madinah. Beliau memberinya jatah rampasan perang dan menegaskan, "Engkau juga memperoleh pahala (jihad)," menempatkannya setara dengan para mujahidin yang bertempur di Perang Badar.

3. Benteng manusia di Perang Uhud

Kisah Thalhah bin Ubaidillah, Sahabat Rasulullah Berjuluk Al-Qarinaini
Ilustrasi Perang Uhud. (Nano Banana 2/Rochmanudin)

Puncak heroisme Thalhah terjadi di medan Perang Uhud, saat pasukan Muslim terdesak dan nyawa Rasulullah terancam. Ketika musuh melancarkan serangan bertubi-tubi hingga Rasulullah terluka parah dan terperosok ke dalam lubang jebakan, Thalhah lah yang menjadi penyelamat.

Dengan penuh kesetiaan, Thalhah menopang dan mengangkat tubuh Nabi agar dapat berdiri tegak kembali. Ia menjadikan dirinya sebagai perisai hidup, menangkis serangan demi serangan untuk melindungi Rasulullah.

Atas pengorbanan yang nyaris merenggut nyawanya itu, Rasulullah bersabda dengan penuh haru:

"Barangsiapa ingin melihat orang syahid berjalan di atas muka bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah."

Rasulullah juga menegaskan surga telah wajib bagi Thalhah atas jasanya di hari itu.

4. Ketulusan hati dan kesetiaan

Kisah Thalhah bin Ubaidillah, Sahabat Rasulullah Berjuluk Al-Qarinaini
Ilustrasi kota Madinah pada masa lampau. (Nano Banana 2/Rochmanudin)

Di luar medan perang, Thalhah dikenal sebagai sosok yang hangat. Saat sahabat Ka’ab bin Malik merasa dikucilkan selama 50 hari sebelum taubatnya diterima Allah, Thalhah adalah satu-satunya sahabat dari kalangan Muhajirin yang langsung berdiri, menjabat tangan, dan memberikan ucapan selamat dengan penuh sukacita saat kabar pengampunan itu tiba.

Hingga saat-saat terakhir kehidupan Nabi, Thalhah tetap berada di lingkaran inti pembela risalah. Namanya akan selalu dikenang sebagai sang ksatria yang tidak hanya setia dengan kata-kata, tetapi juga dengan seluruh raga yang penuh luka demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More