Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Komdigi Uji Coba Perlinsos Digital Demi Perbaiki Data Penyaluran Bansos
Media briefing Komdigi tentang Perlindungan Sosial di Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026). (IDN Times/Deti Mega Purnamasari)
  • Komdigi menguji coba sistem Perlinsos Digital di Banyuwangi untuk memperbaiki data penyaluran bansos Kemensos, dengan 350 ribu warga mendaftar melalui portal perlinsos.kemensos.go.id.
  • Sistem berbasis Digital Public Infrastructure ini memungkinkan pendaftaran, verifikasi kelayakan, dan sanggahan data secara daring, serta akan diperluas ke 42 kabupaten/kota pada Juni–Juli 2026.
  • Masalah utama yang ingin diselesaikan adalah fragmentasi dan kesalahan data bansos seperti exclusion error hingga 70 persen pada program PKH agar penyaluran bantuan lebih tepat sasaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
September 2025

Komdigi melakukan uji coba digitalisasi data Perlindungan Sosial (Perlinsos) di Kabupaten Banyuwangi melalui portal perlinsos.kemensos.go.id dengan partisipasi 350 ribu warga.

18 Mei 2026

Dirjen Teknologi Pemerintah Digital Komdigi, Mira Tayyiba, menjelaskan konsep Perlinsos Digital berbasis Digital Public Infrastructure (DPI) dalam media briefing di Jakarta Pusat.

Juni–Juli 2026

Uji coba Perlinsos Digital dijadwalkan diperluas ke 42 kabupaten/kota di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Medan, Padang, Jambi, Belitung Timur, dan Bogor.

kini

Data bansos masih terfragmentasi dan menimbulkan masalah duplikasi serta inkonsistensi. Komdigi menggunakan sistem DPI dengan komponen digital identity dan data exchange untuk memperbaiki akurasi data penyaluran bantuan sosial.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kementerian Komunikasi dan Informasi Digital (Komdigi) melakukan uji coba sistem Perlinsos Digital untuk memperbaiki akurasi data penyaluran bantuan sosial (bansos) milik Kementerian Sosial.
  • Who?
    Uji coba dilakukan oleh Komdigi bersama Kementerian Sosial, dipimpin oleh Dirjen Teknologi Pemerintah Digital Mira Tayyiba, dengan dukungan Dewan Ekonomi Nasional melalui Arief Anshori Yusuf.
  • Where?
    Uji coba awal dilaksanakan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Tengah, dan akan diperluas ke 42 kabupaten/kota di berbagai wilayah Indonesia.
  • When?
    Pelaksanaan uji coba dimulai pada September 2025 dan rencana perluasan dijadwalkan berlangsung pada Juni hingga Juli 2026.
  • Why?
    Kegiatan ini dilakukan karena data bansos masih terfragmentasi dan sering menimbulkan kesalahan seperti duplikasi, exclusion error, serta inclusion error dalam penyaluran bantuan.
  • How?
    Sistem menggunakan fondasi Digital Public Infrastructure (DPI) dengan fitur digital identity dan data exchange untuk memverifikasi penerima serta mengelola pertukaran data antarinstansi secara real time.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Komdigi bikin coba-coba baru buat bantu Kemensos kasih bantuan ke orang yang butuh. Mereka pakai sistem digital namanya Perlinsos Digital supaya data orang yang dapat bantuan jadi rapi dan gak salah. Banyak orang di Banyuwangi sudah daftar lewat internet. Nanti sistem ini mau dipakai juga di banyak kota lain di Indonesia tahun depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Uji coba Perlinsos Digital menunjukkan langkah konkret pemerintah dalam memperbaiki akurasi dan transparansi penyaluran bantuan sosial. Melalui pemanfaatan Digital Public Infrastructure, warga kini dapat mendaftar, memverifikasi, dan menyanggah data secara langsung. Pendekatan ini menandai upaya serius untuk mengatasi duplikasi dan kesalahan data sehingga distribusi bantuan menjadi lebih tepat sasaran dan efisien.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Komunikasi dan Informasi Digital (Komdigi) melakukan uji coba digitalisasi data Perlindungan Sosial (Perlinsos) milik Kementerian Sosial (Kemensos) yang berasal dari data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN) untuk memperbaiki data penyaluran bantuan sosial (bansos) yang disalurkan Kemensos.

Uji coba tersebut dilakukan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Tengah, pada September 2025 melalui portal perlinsos.kemensos.go.id. Sebanyak 350 ribu warga mendaftar untuk menerima penyaluran bansos melalui portal tersebut.

Direktur Jenderal (Dirjen) Teknologi Pemerintah Digital Komdigi, Mira Tayyiba, mengatakan, Perlinsos Digital merupakan sistem perlindungan sosial digital terintegrasi pertama di Indonesia dengan fondasi Digital Public Infrastructure (DPI) yang sudah diperbarui.

Sistem tersebut, kata dia, memungkinkan warga untuk mendaftar bansos, memverifikasi kelayakan mereka, dan mengajukan sanggah data atas data yang tidak sesuai.

“Jadi, apa yang membedakan bansos hari ini dengan bansos-bansos sebelumnya? Itulah yang tadi disampaikan adanya DPI, Digital Public Infrastructure,” kata Mira di acara media briefing Komdigi dengan media nasional, di Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026).

Uji coba Perlinsos Digital tersebut juga akan diperluas ke 42 kabupaten/kota yang mulai dilaksanakan pada Juni-Juli 2026. Beberapa wilayah perluasan itu di antaranya Kota Medan, Padang, Jambi, Kabupaten Belitung Timur, Pali, Sumedang, Kabupaten Bogor, dan beberapa wilayah lainnya yang ada di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Ambon, dan Papua.

1. 1.Data bansos masih tercecer

Dirjen Teknologi Pemerintah Digital, Mira Tayyiba di acara media briefing Komdigi, Senin (18/5/2026). (IDN Times/Deti Mega Purnamasari)

Mira mengatakan, saat ini data bansos masih tercecer atau terfragmentasi sehingga menimbulkan berbagai masalah seperti adanya data ganda atau data yang tidak konsisten.

“Datanya saat ini masih terfragmentasi sehingga ada duplikasi data, inkonsistensi data. Bansos ini bukan 1-2 tahun ini, bukan 5 tahun ini juga, sudah bertahun-tahun, tapi ‘drama’ itu selalu ada,” kata Mira.

Biasanya, ujar Mira, apabila muncul masalah bansos, hal yang dilakukan adalah menelusuri data yang juga memunculkan pertanyaan data versi siapa karena data-data tersebut masih berceceran.

“Nah, jadi data ini masih terfragmentasi, proses verifikasinya juga panjang. Jadi inilah yang ingin kita selesaikan bahwa pemilihan dan distribusi bantuan ini nantinya menjadi lebih tepat sasaran karena datanya sudah yang terkini dan akurat,” kata Mira.

2. Sistem yang digunakan

Ilustrasi bansos/ Dok Kemensos

Mira mengatakan, dari penggunaan sistem DPI dalam pemutakhiran data bansos tersebut, pihaknya baru menggunakan bagian sistem yang dinamakan digital identity dan data exchange.

“Digital identity ini fungsinya adalah untuk memverifikasi bahwa si A adalah si A yang diampu oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Dukcapil. Sementara untuk data exchange ini adalah untuk tata kelola datanya. Kami pakai Satu Data Indonesia, dan mekanisme dan fasilitas pemerintahan datanya oleh kami, Komdigi menggunakan data SPLP (Sistem Penghubung Layanan Pemerintah),” kata Mira.

3. 70 persen exclusion error bansos program PKH

Anggota Dewan Ekonomi Nasional, Arief Anshori Yusuf di acara media briefing Komdigi, Senin (18/5/2026). (IDN Times/Deti Mega Purnamasari)

Anggota Dewan Ekonomi Nasional, Arief Anshori Yusuf, mengatakan, selama ini ada masalah exclusion error (orang yang seharusnya dapat, tapi tidak dapat) dari data bansos. Salah satunya data Program Keluarga Harapan (PKH) yang exclusion error-nya mencapai 70 persen.

Contoh nyata terjadinya exclusion error adalah kasus seorang anak di NTT yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli peralatan sekolah. Dari hasil penelusuran, kata dia, exclusion error dari kasus tersebut itu adalah adanya isu administrasi dan keluarga itu sendiri.

“Artinya apa? Artinya, 70 persen orang yang berhak, yang miskin, tidak mendapatkan bansos,” kata Arief.

Contoh lainnya adalah kasus mahasiswi di Bandung yang bergaya hidup mewah tapi mendapat bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Arief mengatakan, kasus ini masuk dalam inclusion error data bansos, yaitu orang yang tidak seharusnya dapat bantuan tetapi mendapatkannya.

“Jadi, ini salah sasaran karena data desilnya tidak update. Di KIP ada 40 persen kasus seperti ini,” kata dia.

Arief mengatakan, dengan menggunakan DPI, maka diharapkan seluruh permasalahan bansos yang menyangkut data dapat diselesaikan.

"Kalau ada digitalisasi, kalau orang itu membutuhkan bansos, maka dia akan langsung daftar dengan HP-nya, dan pada saat itu juga dimasukkan data yang akan dipakai untuk menentukan desilnya. Jadi live. Tidak ada data 2022 lagi, tapi data 2026, bulan saat ini, tanggal saat ini, jam segini (saat mendaftar)," ucap Arief.

Editorial Team