Ilustrasi komputer dan laptop yang dipakai badan intelijen untuk memata-matai. (Unsplash.com/Pakata Goh)
Sebagai solusi, Ridwan mendorong penerapan konsep joint intelligence atau integrasi intelijen melalui sistem data terpusat. Dia menilai, pendekatan ini dapat menjadi jalan tengah tanpa melanggar prinsip kerahasiaan operasi intelijen.
Menurut dia, integrasi tidak harus dilakukan pada level operasi, melainkan pada hasil atau produk intelijen yang sudah matang. Data tersebut kemudian dapat diakses oleh pejabat dengan otorisasi tertentu melalui sistem terpadu. Dia mencontohkan praktik di sejumlah negara seperti Australia, Singapura, dan Jerman yang telah memiliki pusat data intelijen terintegrasi.
Ridwan juga menyinggung pentingnya penyederhanaan alur laporan kepada Presiden sebagai pengguna utama intelijen. Ia menilai, sistem saat ini yang menghasilkan banyak laporan terpisah justru kurang efektif dalam mendukung pengambilan keputusan cepat.
Dengan kondisi global yang semakin kompleks, kata dia, pembenahan intelijen bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga ketahanan nasional.
"Anda bayangkan, presiden sebagai ultimate user intelijen. Menurut Robert Gates, user intelijen ya presiden, kepala negara. Jadi Presiden ini kan dia mendapatkan banyak sekali data. Dia mendapatkan data dari Kepala BIN, Panglima TNI dari KaBAIS, dari Pak Polri, dari Kabaintelkam," kata dia.
Ridwan lantas menekankan pentingnya data center nasional yang merangkum berbagai informasi intelijen. Presiden dapat dengan mudah mengakses, menyimpulkan, dan mengambil kebijakan.
"Coba bayangkan ketika ada satu gadget rahasia, yang itu password-nya hanya bisa dimiliki oleh Seskab, Sesneg, dan Bapak Presiden sendiri. Lalu beliau tinggal buka thread harian. Ancaman harian Indonesia hari ini, keluar (saat akses data). Ini data dari BAIS, ini data dari BIN, ini data dari Polri. Sudah dalam satu platform," ucap dia.