Jakarta, IDN Times - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menduga kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus merupakan bagian dari operasi intelijen yang terorganisir. Informasi itu diperoleh berdasarkan investigasi mandiri yang dilakukan oleh KontraS dan sejumlah organisasi lainnya.
"Kami dari awal sudah menduga bahwa ini adalah rangkaian dari operasi intelijen," ujar Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, dalam keterangan yang dikutip Rabu (1/4/2026).
Dugaan itu menjadi kenyataan ketika Mabes TNI mengakui pelaku lapangan sehari-hari bertugas di Badan Intelijen Strategis (Bais). Hal lain yang ditemukan oleh sejumlah organisasi yang bernaung di bawah Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), aksi penyiraman air keras terhadap Andrie melibatkan setidaknya 16 orang. Bahkan, Dimas menyebut terbuka peluang jumlah orang yang terlibat lebih dari 16.
"Ini belum termasuk aktor intelektualnya," kata dia.
Dia merujuk laporan Majalah Tempo pada pekan ini yang menyebut nama operasi untuk membidik Andrie, yakni Sadang. Operasi itu diawali dengan adanya pemantauan, penguntitan, hingga eksekusi.
Dimas juga menyampaikan, dia mendapat informasi bahwa tidak hanya Andrie Yunus yang dijadikan target, tetapi aa beberapa individu dan organisasi yang turut dibidik dalam operasi intelijen itu.
