Jakarta, IDN Times - Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Maruli Simanjuntak mengakui ada keteledoran anggotanya ketika melakukan pemusnahan amunisi di Desa Sagara, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada 12 Mei 2025 lalu. Jenderal bintang empat itu mengakui seharusnya tidak melibatkan warga sipil di dalam aktivitas pemusnahan amunisi yang kedaluwarsa. Akibatnya sembilan dari 13 korban meninggal dunia merupakan warga sipil.
"Dulunya (warga sipil) hanya membantu masak-masak (untuk konsumsi prajurit TNI), bersih-bersih, tidak sampai mengantar (amunisi masuk ke dalam lubang). Inilah keteledoran-keteledoran yang akan kami perbaiki," ujar Maruli ketika menjawab pertanyaan IDN Times di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pada Senin (26/5/2025).
Ia pun tak menampik warga sipil di dalam aktivitas itu diberi honor Rp150 ribu per hari. Maruli mengatakan warga sipil ikut terlibat karena melihat ada aktivitas pemusnahan amunisi di Desa Sagara yang sudah berlangsung sekitar 35 tahun. Namun, keterlibatan warga sipil ketika itu, kata Maruli hanya bersifat administratif. Mereka tak menyentuh langsung amunisi yang hendak dimusnahkan.
"Pada tahun 1985 kan (titik pemusnahan) jauh dari pemukiman warga. Sekarang kan pemukiman mendekat. Masyarakat akhirnya ikut bergabung, tadinya hanya ikut memasak, akhirnya itu juga yang membuat kami harus melakukan evaluasi," tutur dia.