Pemerintah resmi melepas sebanyak 2.109 calon Komponen Cadangan (Komcad) Aparatur Sipil Negara (ASN) dari 49 kementerian/lembaga. Upacara pelepasan calon ASN Komcad gelombang pertama ini digelar di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Di balik langkah mantap para peserta, terselip cerita keluarga yang tak kalah menguatkan. Suherlan, yang telah berkeluarga dan memiliki anak, mengaku mendapat dukungan penuh dari rumah.
“Sangat mendukung, keluarga sangat mendukung, sangat antusias. Tidak ada hambatan dan tidak ada permasalahan apa-apa,” ujarnya.
Sementara itu, Maulidia merasakan campuran emosi dari orang tuanya. Sang ibu sempat diliputi kekhawatiran, bahkan tak bisa tidur karena cemas. Namun di sisi lain, ayahnya justru memberi semangat penuh.
“Kalau bapak saya, ‘Semangat, Mbak!’ kayak gitu. Jadi didukung, gitu,” katanya.
Kini, keduanya bersiap menghadapi serangkaian seleksi, mulai dari tes jasmani hingga psikologi. Jika lolos, mereka akan menjalani pelatihan intensif selama 45 hari—tanpa jeda, tanpa pulang.
Di bawah langit Jakarta yang mulai beranjak siang, langkah-langkah itu terus bergerak. Mungkin berat, mungkin melelahkan. Tapi di sanalah, harapan-harapan kecil itu ditempa—menjadi lebih kuat, lebih disiplin, dan lebih siap mengabdi.
Untuk diketahui, pemerintah resmi melepas sebanyak 2.019 calon Komcad ASN dari 49 kementerian/lembaga.
Kabacadnas Letjen TNI, Gabriel Lema menjelaskan, ribuan ASN ini sudah dinyatakan lulus tahap awal seleksi berupa administrasi dan kesehatan. Kemudian mereka dikirim ke enam lembaga pendidikan untuk mengikuti tes psikologi, ideologi, dan jasmani.
"Hari ini dipandang perlu untuk kita melakukan kegiatan secara kolaboratif bersama seluruh kementerian, ada 49 kementerian/lembaga, dalam rangka untuk memastikan kesiapan sesuai rencana di program gelombang pertama ini, diberangkatkan ke enam Lemdik yang sudah disiapkan oleh Kemhan dan jajaran TNI," kata dia di lokasi.
Gabriel menjelaskan, total ada sekitar 4.000 ASN yang mengikuti komcad pada tahun ini. Dengan rincian terbagi menjadi dua gelombang.
"Kemudian sudah direncanakan tahun ini, 4.000 ASN yang akan disiapkan, yang sudah kita petakan pendidikannya dilalui dengan dua gelombang. Tiap gelombang 2.000. Sehingga ini gelombang pertama selesai nanti kita akan siapkan di pertengahan tahun menuju ke akhir tahun 2.000 lagi," tuturnya.
Gabriel memaparkan, para peserta akan diberikan pembekalan kurikulum terkait pelatihan dasar militer. Salah satunya mengenai pendidikan karakter agar ASN lebih peduli, disiplin, dan memiliki jiwa korsa.
"Terkait dengan materi, saya kira kita secara basic Kementerian Pertahanan ini dalam pelaksanaan pembentukan Komcad sudah mempunyai perangkat ataupun kurikulum dalam konteks Latsarmil. Ya konsep dalam konteks yang sederhana saja, bagaimana kita membangun kepedulian, karakter itu dimulai dengan sehati, mengerti tentang tugas, kemudian kepedulian, pembentukan jiwa korsa," tuturnya.
"Kemudian dalam rangka untuk memantapkan jiwa disiplin, kita tahu dalam pelaksanaan pendidikan nanti latihan, sederhana bagaimana mereka dengan suatu kurikulum yang sudah ditata dari waktu ke waktu, ini menuntut disiplin waktu, disiplin kegiatan. Dan lebih jauh daripada itu, bagaimana ketahanan mental mereka ini yang harus disiapkan," sambungnya.
Gabriel menuturkan, semua profesi di jajaran kementerian punya bobot tugas negara yang berbeda-beda, namun kewajiban itu harus dimatangkan melalui pendidikan karakter dan mental.
"Di samping itu juga, bagaimana model penyelesaian suatu permasalahan, problem solving ini yang paling penting. Tidak secepatnya menanggapi sesuatu itu dalam konteks sesuai dengan pemikiran sebatas pribadi, tapi bagaimana membentuk kolaborasi kelompok bahkan unit sampai dengan satuan hubungan kementerian," ungkap dia.
Lebih lanjut, Gabriel juga menyebut, ASN akan diajarkan mengenai pengetahuan dasar operasional senjata. Mereka mendapat pelatihan menembak terbatas.
"Iya (operasi senjata diajarkan) , pengetahuan dasar. Jadi kurikulum sudah diatur kaitan dengan nuansa yang bersifat militer, itu bersifat pengetahuan. Pengetahuan terbatas ya, senjata juga demikian. Karena mereka pun nanti harus melaksanakan latihan menembak terbatas. Tentunya pengetahuan senjata juga demikian," imbuhnya.