Selain penyediaan sarana konsultasi, satu dari banyak bentuk penerimaan terhadap ABK di lingkungan masyarakat adalah terbukanya akses pendidikan bagi mereka. Matra'i selaku Kepala Forum Komunikasi Sekolah Inklusi Surabaya pun sependapat dengan ini. Ketika aku mengunjungi sekolah yang dibinanya, ia dengan terbuka menunjukkan apa yang sudah dicapai dan apa yang perlu perbaikan.
"Seharusnya fasilitas yang menunjang anak-anak itu ada, termasuk ruangannya. Kita itu punyanya hanya sedikit. Anak-anak ini kan butuh [dilatih] keterampilannya. Kalau akademik saya rasa gak mungkin," kata laki-laki asal Madura itu. Soal guru, Matrai'i menjelaskan bahwa di sekolahnya hanya ada empat Guru Pendamping Khusus (GPK).
"Tapi guru regulernya sudah dibina. Bukan pendamping khusus, tapi guru-guru di sini dari olahraga, agama, semuanya sudah ikut pelatihan untuk mengelola anak-anak inklusi itu. Dalam seminggu, mereka dimasukkan ke kelas reguler dua kali dan kelas inklusi tiga kali.
Aku diberi kesempatan untuk melihat perbedaan dua kelas itu. Di ruang inklusi, mereka lebih banyak dibiarkan bermain dan berinteraksi secara lebih dekat dengan guru. Kebetulan saat aku datang, seorang siswa ABK bernama Bagas berulangtahun.
Anak usia sembilan tahun yang diduga memiliki keterlambatan bicara dan autisme itu merayakan bersama teman-teman dan guru-gurunya dalam suasana bersahabat. Di kelas reguler, siswa ABK duduk di dekat guru, sedangkan teman-teman sekelasnya belajar seperti biasa.
"Ini karena mereka butuh perhatian khusus," kata Febri Dwi Cahya, guru pendamping ABK, yang menemaniku. Tak seperti siswa lain, satu ABK dengan autisme yang aku temui belajar berhitung dengan mengubah angka menjadi bentuk buah yang kemudian diwarnai agar menarik.
Aku menduga situasi seperti itu cukup sulit, apalagi jika dalam satu kelas ada 40-an siswa lainnya. "Idealnya memang ada GPK di setiap kelas," tambah Febri.Meski begitu, menurut Matra'i, Surabaya sebenarnya lebih perhatian kepada pendidikan ABK.
"Dibandingkan di wilayah lain di Indonesia, kita ini betul-betul diperhatikan oleh Wali Kota. Teman-teman reguler yang membantu dua hari di kelas itu, mereka dikasih reward juga. Kalau gak salah Rp800 ribu per bulan."