Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mendagri Minta Pemda ke Lapangan Cek Harga Imbas Rupiah Melemah
Ilustrasi pedagang cabai, bawang, dan sembako lainnya di Pasar Badung. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Mendagri Tito Karnavian meminta pemda turun langsung memantau harga barang dan jasa akibat pelemahan rupiah serta gejolak geopolitik Timur Tengah yang berpotensi memicu inflasi.
  • Tito menegaskan inflasi nasional April 2026 sebesar 2,42 persen masih dalam target pemerintah dan jauh lebih terkendali dibandingkan negara-negara dengan hiperinflasi seperti Venezuela dan Sudan Selatan.
  • Sektor transportasi menjadi penyumbang utama inflasi bulan ke bulan, disusul makanan, minuman, dan restoran; beberapa daerah seperti Papua Barat dan Kalimantan mencatat kenaikan inflasi di atas 3,5 persen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Tito, Menteri Dalam Negeri, bilang ke pemerintah daerah supaya sering lihat harga barang di pasar. Katanya uang rupiah lagi lemah dan minyak dunia naik karena ada perang di Timur Tengah. Sekarang inflasi Indonesia 2,42 persen, masih bagus tapi harus dijaga. Yang paling bikin harga naik itu transportasi, makanan, dan minuman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, meminta agar pemerintah daerah (pemda) aktif mengecek kondisi lonjakan harga barang dan jasa di lapangan, imbas pengaruh kondisi geopolitik Timur Tengah hingga melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Hal tersebut disampaikan Tito saat menggelar Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta Pusat, Senin (18/6/2026). Tito mengimbau agar seluruh pihak, termasuk pemda tidak berpuas diri dengan angka inflasi nasional yang berhasil ditekan di angka 2,42 persen.

"Namun, kita jangan berpuas diri karena apa, karena satu, geopolitik. Kita tahu bahwa situasi internasional masih sangat dinamis, adanya perang di Iran. Harga minyak naik di tingkat global. Kemudian juga kurs dolar kepada sejumlah mata uang, termasuk Indonesia juga, ya kita mengalami cukup tekanan. Namun kita masih bersyukur bahwa inflasi year-on-year masih di angka 2,42 persen di April," kata dia.

Menurut Tito, potensi meningkatnya harga barang dan jasa secara umum sehingga berdampak pada daya beli masyarakat, perlu diamati secara intensif pada bulan Mei 2026.

"Mei ini kita harus mengamati betul perkembangan dari dampak terutama kenaikan harga minyak, dan juga kurs mata uang. Apakah ada pengaruh atau tidak. Ini perlu dicek ke lapangan oleh semua daerah, pasar, harga-harga barang dan jasa, transportasi, apakah terjadi kenaikan atau tidak. Sangat penting," ungkapnya.

1. Angka inflasi 2,42 persen relatif positif

Satgas Pangan Jabar Keliling Pasar Demi Pastikan Harga Sembako Stabil. (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Tito mengatakan, angka inflasi nasional 2,42 persen pada April 2026 menunjukkan pencapaian yang relatif positif. Mengingat target nasional inflasi adalah di angka 2,5 persen.

"Ini angka yang paling bagus dan juga relatif bisa menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen. Target nasional adalah 2,5 persen, plus minus 1 persen. Jadi ini masih dalam target pemerintah. Dan inflasi bulan ke bulan juga kita lihat 0,13 persen, relatif menurun juga dari sebelumnya 0,41 persen bulan yang lalu," ucap dia.

2. Bandingkan dengan kondisi internasional

ilustrasi inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)

Tito lantas membandingkan kondisi inflasi dalam negeri dengan berbagai negara lainnya. Ia mengaku bersyukur, angka inflasi di Indonesia bisa terkendali dengan baik. Mantan Kapolri ini pun membandingkan dengan kondisi hiperinflasi yang terjadi di Venezuela dan Sudan Selatan.

"Nah, ini dengan angka ini, kita melihat bahwa di tingkat internasional, kita juga termasuk terkendali baik. Ada negara yang sudah mencapai 612 persen Venezuela, yang kemarin presidennya ditangkap, dibawa ke Amerika. Itu sudah terjadi hiperinflasi 612 persen. Bayangkan semua harga barang dan jasa naik enam kali lipat. Hiperinflasi. Juga Sudan Selatan itu 113 persen," jelas dia.

Tito menerangkan, kategori negara mengalami hiperinflasi adalah angka inflasinya mencapai di atas 100 persen. Sementara kategori inflasi berat, negara yang mengalami inflasi di rentang 30 sampai 100 persen.

"(Inflasi berat) seperti yang terjadi di Iran, Afghanistan, Turki. Ini berat. Sudah sangat berpengaruh di masyarakat. Sendi-sendi ekonomi sudah goncang," tuturnya.

3. Penyumbang inflasi tertinggi dalam negeri berasal dari sektor transportasi

Ilustrasi Inflasi (Foto: IDN Times)

Lebih lanjut, Tito memaparkan berbagai komoditas yang jadi penyumbang inflasi dalam negeri. Sektor yang paling besar memengaruhi ialah transportasi. Kemudian disusul sektor makanan, minuman, dan restoran.

"Kita lihat beberapa komoditas yang menjadi penyumbang inflasi, terutama adalah yang untuk month-to-month, dari bulan ke bulan, ya, dari Maret ke April. Itulah sektor transportasi yang tertinggi," ucapnya.

Walaupun angka nasional inflasi masih ideal, namun ada beberapa daerah dengan inflasi year-on-year cukup signifikan naik. Di antaranya seperti Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Barat Daya, Papua, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

"Ini year on year-nya cukup tinggi. Di atas 3,5 persen, artinya di atas target pemerintah," imbuh Tito.

Editorial Team