Jakarta, IDN Times - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, meminta agar pemerintah daerah (pemda) aktif mengecek kondisi lonjakan harga barang dan jasa di lapangan, imbas pengaruh kondisi geopolitik Timur Tengah hingga melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Hal tersebut disampaikan Tito saat menggelar Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta Pusat, Senin (18/6/2026). Tito mengimbau agar seluruh pihak, termasuk pemda tidak berpuas diri dengan angka inflasi nasional yang berhasil ditekan di angka 2,42 persen.
"Namun, kita jangan berpuas diri karena apa, karena satu, geopolitik. Kita tahu bahwa situasi internasional masih sangat dinamis, adanya perang di Iran. Harga minyak naik di tingkat global. Kemudian juga kurs dolar kepada sejumlah mata uang, termasuk Indonesia juga, ya kita mengalami cukup tekanan. Namun kita masih bersyukur bahwa inflasi year-on-year masih di angka 2,42 persen di April," kata dia.
Menurut Tito, potensi meningkatnya harga barang dan jasa secara umum sehingga berdampak pada daya beli masyarakat, perlu diamati secara intensif pada bulan Mei 2026.
"Mei ini kita harus mengamati betul perkembangan dari dampak terutama kenaikan harga minyak, dan juga kurs mata uang. Apakah ada pengaruh atau tidak. Ini perlu dicek ke lapangan oleh semua daerah, pasar, harga-harga barang dan jasa, transportasi, apakah terjadi kenaikan atau tidak. Sangat penting," ungkapnya.
