Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menhan Sjafrie.jpg
Sekjen Kemensos RI, Robben Rico saat meninjau lahan sekolah rakyat di Rancamaya, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (20/1/2026). IDN Times/Linna Susanti.

Intinya sih...

  • Sejarah kelam penyelundupan timah yang terulang

  • PT Timah pernah jaya tapi digerogoti korupsi dan penyelundupan, kini pemerintah bergerak cepat untuk menyapu bersih praktik ilegal di sektor kelapa sawit dan tambang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bogor, IDN Times - Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, memberikan peringatan keras terkait kondisi kedaulatan ekonomi Indonesia.

Dalam sambutannya di acara Retret PWI di Rumpin, Bogor, Sabtu (31/1/2026), dia menyoroti bagaimana kekayaan alam masih menjadi incaran empuk pihak asing dan domestik melalui jalur ilegal.

Sjafrie mengingatkan, luas wilayah Indonesia yang mencapai 7 juta kilometer persegi adalah berkah sekaligus tantangan. Kekayaan alam yang melimpah inilah yang memicu bangsa Eropa bertahan hingga 350 tahun di Tanah Air dan dinilainya menjadi faktor penghambat kemajuan di masa lalu.

"Apa yang terjadi sekarang? Kekayaan alam kita masih diincar. Selalu dibawa ke luar, baik itu dilakukan oleh bangsa kita sendiri, maupun kolaborasi dengan bangsa luar," ujar Sjafrie.

1. Sejarah kelam penyelundupan timah yang terulang

Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin saat menyapa wartawan di acara Retret PWI di Retret Bela Negara yang digelar di Pusat Kompetensi Bela Negara, Rumpin, Bogor, Sabtu (31/1/2026). IDN Times/ Linna Susanti.

Menhan berkisah tentang kejayaan PT Timah pada tahun 1977 yang sempat melampaui Pertamina. Namun, kata dia, kejayaan itu digerogoti oleh korupsi dan penyelundupan.

Meski sempat ditekan selama 21 tahun, celah penyelundupan kembali terbuka lebar pascareformasi 1998 hingga tahun 2025 lalu.

Sjafrie menegaskan, pemerintah kini bergerak cepat melalui satuan tugas untuk menyapu bersih praktik ilegal. Mulai dari kelapa sawit hingga tambang di wilayah Barat maupun Timur Indonesia seperti Maluku.

2. Modus pengusaha legal, tapi bertindak ilegal

Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin saat menyapa wartawan di acara Retret PWI di Retret Bela Negara yang digelar di Pusat Kompetensi Bela Negara, Rumpin, Bogor, Sabtu (31/1/2026). IDN Times/ Linna Susanti.

Salah satu sorotan tajam Menhan adalah adanya ancaman kedaulatan ekonomi yang datang dari dalam.

Dia mengatakan, ada pengusaha yang secara administratif terlihat legal, tetapi praktiknya merugikan negara karena tidak memenuhi kewajiban atau bahkan melakukan tindakan ilegal.

"Ada pengusaha-pengusaha tampil legal tapi tindakannya ada ilegal. Jadi kita mau fokus bahwa kedaulatan kita terancam oleh kedaulatan ekonomi," kata dia.

3. Kebocoran anggaran mencapai Rp5.770 triliun

Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin saat memberi sambutan di acara Retret PWI di Retret Bela Negara yang digelar di Pusat Kompetensi Bela Negara, Rumpin, Bogor, Sabtu (31/1/2026). IDN Times/ Linna Susanti.

Menurut dia, hal ini berakibat adanya kebocoran anggaran. Angka yang disampaikan pun cukup mencengangkan. Berdasarkan data yang dia terima, terjadi kebocoran hingga 150 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.770 triliun.

Selain itu, dana Bank Himbara yang disalurkan kepada pengusaha juga patut dipertanyakan efektivitasnya bagi negara.

Sjafrie turut menyinggung adanya konsentrasi kekayaan di tangan segelintir orang.

"Ada 10 orang yang menguasai ekonomi kita, itulah data yang saya terima," kata dia.

Dia pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk wajib membela negara dari ancaman ekonomi ini.

Editorial Team