Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy di Gedung Dakwah Muhammadiyah Jakarta Pusat. (IDN Times/Amir Faisol).
Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy buka suara terkait perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 H antara Muhammadiyah dan pemerintah pada tahun ini.
Menurut Muhadjir, baik pemerintah maupun Muhammadiyah sama-sama memiliki argumen kuat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Perbedaannya, hanya terletak pada metode yang digunakan oleh kedua pihak.
Dia menjelaskan, Muhammadiyah menggunakan tajdid baru atau hasil kajian pembaharuan, yaitu menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal. Artinya, keberadaan hilal tidak hanya diukur di wilayah tertentu tetapi berlaku seluruh dunia. Muhammadiyah meyakini, ketika tanggal satu muncul di Alaska, maka juga berlaku di seluruh dunia.
"Jadi ini kan kita sudah biasa berbeda gitu dan jangan diinterpretasikan yang penting, yang dimaksud taat kepada pemerintah itu bukan berarti lebarannya sama gitu ya. Jadi baik yang lebaran hari ini maupun besok itu ya sama-sama taat kepada pemerintah, ini yang harus kita tekankan," kata Muhadjir di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (20/3/2026).
Muhadjir menjelaskan Kalender Hijriah Global juga telah diratifikasi oleh 10 negara. Muhammadiyah secara resmi memberlakukan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) pada Juni 2025. Kalender ini menerapkan prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia dan memandang seluruh permukaan bumi sebagai satu matlak.
"Itulah perbedaannya antara wujudul hilal yang lama yang itu terbatas untuk Indonesia, sekarang wujudul hilal itu berlaku untuk seluruh dunia dan sekarang sudah diratifikasi lebih dari 10 negara ya untuk kalender Hijriah Global Tunggal itu," kata Penasehat Khusus Presiden Bidang Urusan Haji itu.