Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anies Baswedan bersalaman dengan Presiden Prabowo Subianto usai pelantikan di Gedung MPR/DPR pada Minggu (20/10/2024). (instagram.com/aniesbaswedan)
Anies Baswedan bersalaman dengan Presiden Prabowo Subianto usai pelantikan di Gedung MPR/DPR pada Minggu (20/10/2024). (instagram.com/aniesbaswedan)

Intinya sih...

  • Fenomena pergeseran fungsi partai politik

  • Ketika identitas partai terlalu melekat pada satu figur, daya tawar partai bisa melemah jika dinamika politik berubah

  • Parpol baru deklarasi langsung dukung capres

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — Deklarasi dua partai politik baru yang langsung mengunci dukungan calon presiden dinilai sebagai sinyal perubahan pola kontestasi politik nasional. Partai Gema Bangsa secara terbuka menyatakan dukungan kepada Prabowo Subianto, sementara Partai Gerakan Rakyat memposisikan diri sebagai partai pendukung Anies Baswedan untuk Pemilihan Presiden 2029.

Pengamat politik dan Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago menilai langkah ini menunjukkan bahwa politik Indonesia memasuki era baru yang bisa disebut sebagai “early booking” pilpres, di mana partai bahkan belum melewati verifikasi dan pemilu legislatif, tetapi sudah menjual arah dukungan presidensial.

“Ini bukan sekadar deklarasi dukungan, melainkan strategi branding. Partai baru hari ini tidak lagi menjual ideologi atau program, tetapi menjual kepastian, mereka berdiri di kubu siapa,” ujar dia dalam keterangannya, Senin (19/1/2026).

1. Fenomena pergeseran fungsi partai politik

Deklarasi Partai Gema Bangsa di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta Pusat, Sabtu (17/1/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Menurutnya, fenomena ini menandai pergeseran fungsi partai politik. Jika sebelumnya partai menjadi arena kaderisasi dan perumusan gagasan, kini sebagian partai baru lahir justru sebagai instrumen elektoral untuk figur tertentu. Capres bukan hasil proses partai, melainkan titik awal kelahiran partai itu sendiri.

Deklarasi dini tersebut juga dibaca sebagai respons atas semakin padatnya pasar politik. Dengan banyaknya partai dan figur yang bersaing, partai baru memilih jalan pintas untuk langsung mengikat emosi pemilih lewat tokoh yang sudah dikenal publik.

“Dalam konteks ini, Pilpres 2029 diperlakukan seperti konser besar yang tiketnya dijual jauh-jauh hari. Siapa cepat memesan panggung, dia yang lebih dulu terlihat,” katanya.

2. Ketika identitas partai terlalu melekat pada satu figur, daya tawar partai bisa melemah jika dinamika politik berubah

Anies Baswedan saat menerima kartu anggota Gerakan Rakyat (Instagram/Anies Baswedan)

Namun, strategi ini dinilai memiliki konsekuensi jangka panjang. Ketika identitas partai terlalu melekat pada satu figur, daya tawar partai bisa melemah jika dinamika politik berubah. Selain itu, ruang dialog kebijakan berisiko tergeser oleh narasi personalisasi politik yang berkepanjangan.

Arifki menambahkan, deklarasi cepat juga memperpanjang suhu kompetisi politik nasional. Polarisasi tidak lagi muncul menjelang pemilu, tetapi berpotensi menjadi latar permanen dalam kehidupan politik sehari-hari.

“Pilpres 2029 belum resmi dimulai, tetapi cara berpikir elite politik sudah berada di tahun itu. Ini pertanda bahwa siklus politik kita makin pendek, sementara masa kampanye makin panjang,” ujarnya.

Ia lantas menegaskan, publik perlu memahami dinamika ini sebagai perubahan irama demokrasi.

“Pilpres 2029 belum dekat secara kalender, tetapi secara politik sudah mulai berjalan. Siapa cepat menyiapkan diri dan mengunci kendaraan, dialah yang lebih siap memasuki arena,” imbuh dia.

3. Parpol baru deklarasi langsung dukung capres

Ilustrasi debat calon presiden dan wakil presiden jelang pemilihan presiden (pilpres) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Sebagaimana diketahui, Gema Bangsa resmi mendeklarasikan diri sebagai partai politik. Sekjen Partai Gema Bangsa, Muhammad Sopyan, membacakan langsung poin-poin deklarasi tersebut di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta Pusat, Sabtu (17/1/2026). Salah satu poinnya, menyatakan dukungan kepada Presiden RI, Prabowo Subianto.

Partai yang mengidentitaskan diri dengan warna biru ini juga mengaku siap memenangkan Pemilu 2029.

"Partai Gema Bangsa dengan kekuatan struktur organisasi dan kader yang tersebar di seluruh provinsi dan kabupaten kota di Indonesia serta perwakilan di luar negeri, siap memenangkan pemilu tahun 2029," ungkap dia.

"Partai Gema Bangsa mendukung kembali Bapak Prabowo Subianto maju pada Pilpres 2029," imbuh Sopyan.

Ketua Umum Partai Gema Bangsa, Ahmad Rofiq, menilai Prabowo layak maju kembali sebagai capres karena sosoknya yang ideal sebagai pemimpin. Menurutnya, Prabowo adalah tokoh yang tegas.

Gema Bangsa juga mengusulkan kepada Komite Nobel Norwegia untuk memberikan Nobel Perdamaian kepada Prabowo, karena dianggap aktif mendorong kemerdekaan Palestina.

"Rasa-rasanya langka mencari calon pemimpin seperti apa yang dimiliki oleh Pak Prabowo hari ini. Begitu kerasnya melawan korupsi, tidak pandang bulu, apa pun disikat, banyak sekali para koruptor-koruptor itu lari ke luar negeri karena ancaman-ancamannya. Kita tidak pernah mendapati presiden-presiden sebelumnya yang segalak seperti Pak Prabowo. Tentu ini sesuatu yang sangat luar biasa dan rahmat bagi Indonesia," ucap Rofiq.

Sementara, ormas Gerakan Rakyat juga mendeklarasikan diri menjadi partai politik. Partai ini menyatakan dukungan terhadap Anies Rasyid Baswedan untuk maju sebagai capres pada Pemilu 2029.

“Satu hal kita menginginkan Indonesia lebih adil dan makmur dan yang kedua kita menginginkan bahwa pemimpin nasional kita nanti insyaallah adalah Anies Rasyid Baswedan,” kata Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid Sahrin dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Gerakan Rakyat di Hotel Aryaduta, Jakarta, Minggu (18/1/2026).

Editorial Team