Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pembatasan Kadar Tar dan Nikotin Jadi Kiamat bagi Petani Tembakau
ilustrasi Petani Tembakau Deli (Dok. IDN Times)
  • Petani tembakau menilai rencana pembatasan kadar tar dan nikotin bisa mematikan hingga 90 persen varietas lokal, membuat mereka kehilangan pasar dan penghidupan.
  • APTI menilai kebijakan pemerintah tidak adil karena belum meratifikasi FCTC, namun sudah menerapkan aturan yang dianggap menyulitkan petani di berbagai daerah penghasil tembakau.
  • Kementerian Pertanian mencatat tembakau menyumbang Rp217 triliun bagi negara, sementara BRIN menegaskan Indonesia belum siap menerapkan batas rendah kadar tar dan nikotin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Petani tembakau khawatir dan semakin terhimpit dengan rancangan regulasi yang tidak berkeadilan, yaitu Rekomendasi Pembatasan Kadar Tar dan Nikotin. Padahal petani tembakau di seluruh nusantara berupaya optimistis mempersiapkan lahan untuk menanam.

Sekjen DPN Asosiasi Petani Tembakau Nasional Indonesia (APTI) Muhdi mengatakan tantangan petani tembakau adalah anomali iklim dan regulasi.

"Ini penyebab penurunan produksi dan turunnya serapan. Ini kegagalan yang sangat mengkhawatirkan bagi petani. Dan, sekarang yang menjadi momok ada regulasi yang menghadang kami adalah soal pembatasan kadar tar dan nikotin," ujarnya dalam keterangan tertulis dalam diskusi wartawan, Kamis (5/3/2026).

1. Kiamat bagi petani tembakau

Petani menunjukkan warna tembakau coklat, dampak diguyur hujan (IDN Times/Ruhaili)

Muhdi menilai kebijakan pembatasan kadar tar dan nikotin berpotensi memukul petani tembakau secara serius. Menurut dia, jika aturan tersebut diterapkan, sekitar 90 persen varietas tembakau lokal berpotensi tidak terserap industri.

Ia bahkan menyebut kondisi tersebut bisa menjadi "kiamat" bagi petani tembakau karena mayoritas varietas lokal tidak lagi memiliki pasar.

"Kalau dibatasi, 90 persen tembakau kita mau dikemanakan? Tidak ada teknologi yang bisa secepat kilat mengubah kadar nikotin tembakau kita. Lalu bagaimana dampaknya ke petani?" 90 persen varietas tembakau lokal mati, kiamat bagi petaninya," ucapnya

2. Pemerintah dinilai tidak fair

Ratusan hektar tembakau petani di desa Darma Sari layu setelah diguyur hujan (IDN Times/Ruhaili)

Muhdi menjelaskan bahwa tembakau adalah komoditas strategis yang nilai ekonomisnya sangat tinggi. Tembakau terbukti menghidupkan perputaran kebutuhan masyarakat di daerah seperti Madura, Temanggung, Lamongan, Jember dan lainnya.

“Pemerintah harus fair, padahal kita belum ratifikasi FCTC, tapi aturannya sangat menyakiti dan mematikan petani. Seperti memaksakan pembatasan kadar tar dan nikotin," katanya.

3. Tembakau berkontribusi terhadap penerimaan negara hingga Rp217 triliun

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Magetan, Siswanto. IDN Times/Riyanto.

Ketua Kelompok Tanaman Semusim, Kementerian Pertanian, Yudi Wahyudi menekankan bahwa tembakau adalah komoditas yang berkontribusi terhadap penerimaan negara hingga Rp217 tiliun yang signifikan terhadap perekonomian nasional.

"Di pedesaan, tembakau terbukti menggerakkan ekonomi masyarakat. Inilah mengapa tembakau menjadi penting. Namun, memang banyak hal-hal eksternal yang mempengaruhi serapan tembakau, termasuk regulasi dengan berbagai pembatasan. Mulai dari dorongan ratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control), yang mana termasuk dorongan menurunkan kadar nikotin," papar Yudir.

4. BRIN ungkap berbagai faktor penentu nikotin

Tanaman tembakau di desa Getasanyar Kecamatan Sidorejo Magetan. IDN Times/Riyanto.

Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Setiari Marwanto menegaskan ada banyak faktor penentu kadar nikotin tembakau. Mulai dari unsur generik, posisi daun pada batang, populasi tanaman, pemupukan dan pemangkasan.

.Setiari menambahkan bahwa Indonesia belum siap dengan pembatasan rendahnya kadar tar dan nikotin seperti yang didorong saat ini.

"Kita belum siap dengan rendahnya kadar tar dan nikotin seperti yang didorong saat ini. Dengan kondisi saat ini, tidak ada varietas lokal kita yang kadar nikotinnya kurang dari 1 persen Mulai dari varietas tembakau di Temanggung, Jember, Banyuwangi, rata-rata di kisaran3 persen sampai 8 persen," ujarnya.

BRIN yang selama ini fokus di on farm, sebut Setiari, tahun lalu telah melepas 14 varietas tembakau. Termasuk membantu para mitra untuk melakukan perakitan varietas baru.

Editorial Team