Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ketua Umum Persagi, Doddy Izwardy
Ketua Umum DPP Persagi, Doddy Izwardy (IDN Times/Pitoko)

Intinya sih...

  • Tenaga gizi dampingi sekolah darurat, memberikan praktik PMBA dan konseling psikolog serta dokter.

  • Edukasi harus konsisten, kunci utama menjaga keberlanjutan perbaikan gizi nasional.

  • Siapkan anak jadi agent of change, edukasi gizi serentak di ribuan sekolah untuk menyiapkan anak-anak sebagai agen perubahan pola makan sehat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) mengingatkan ancaman masalah gizi bisa kembali meningkat jika situasi darurat, seperti bencana, tidak ditangani dengan baik.

Doddy menyinggung berbagai bencana banjir yang belakangan melanda Aceh, Sumatra Utara, Padang, dan daerah lain.

“Dalam ilmu gizi bencana, kelompok rentan itu yang kena duluan. Ibu hamil, balita 0–2 tahun. Kalau tidak dijaga, dampaknya bisa ke underweight, wasting, sampai stunting,” kata Ketua Umum DPP PERSAGI, Doddy Izwardy dalam Edukasi Gizi Serentak, dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (21/1/2026).

1. Tenaga gizi dampingi sekolah darurat

PERSAGI gelar edukasi siswa/ dok PERSAGI

Ia mencontohkan di Aceh Tamiang, sekolah darurat didampingi tenaga gizi yang diturunkan Kemenkes dan PERSAGI untuk memberikan praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), disertai konseling psikolog dan dokter.

“Tujuannya supaya mereka tidak jatuh ke kondisi masalah gizi. Tiga indikator itu harus dijaga: underweight, wasting, dan stunting,” ucapnya.

2. Edukasi harus konsisten

Pelakasanaan MBG di SD Pranan 1 Sukoharjo. (IDN Times/Larasati Rey)

Doddy menegaskan, kunci utama menjaga keberlanjutan perbaikan gizi nasional adalah edukasi yang konsisten.

“Kalau edukasi ini terabaikan, kita khawatir kasusnya akan naik lagi. Karena itu, kami di PERSAGI yakin, perubahan besar itu harus dimulai dari anak-anak,” katanya.

3. Siapkan anak jadi agent of change

PERSAGI siapkan edukasi siswa/dok PERSAGI

Untuk itu, PERSAGI menggelar edukasi gizi serentak di ribuan sekolah di seluruh Indonesia. Kegiatan ini tak hanya bertujuan memecahkan rekor, tetapi juga menyiapkan anak-anak sekolah sebagai agent of change atau agen perubahan pola makan sehat di lingkungan keluarga.

Kegiatan ini melibatkan sekitar 9.300 tenaga edukator gizi, lebih dari 55 ribu peserta didik, serta sekitar 18 ribu sekolah di seluruh Indonesia.

“Tujuan kita hari ini, pertama insyaallah mendapatkan rekor MURI karena melakukan edukasi gizi serentak dan besar. Tapi yang paling penting, ini adalah bagian dari upaya jangka panjang memperbaiki kualitas gizi bangsa,” beber Doddy.

4. Pentingnya pemahaman kualitas makan di sekolah

Menu MBG di Taman Siswa Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Menurutnya, Indonesia sebenarnya mencatat kemajuan besar dalam 10 tahun terakhir dalam menurunkan angka stunting. Dari 37,2 persen pada 2013, turun menjadi 19,8 persen pada 2024.

“Kalau dihitung, penurunannya sekitar 1,3 sampai 1,5 persen per tahun. Ini bukan angka kecil. Dan kenapa stunting ini penting? Karena ini berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas SDM, terutama dari sisi kognitif, lewat makanan yang diberikan,” jelasnya.

Selama satu dekade terakhir, upaya penurunan stunting difokuskan pada 1.000 hari pertama kehidupan melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif yang digarap bersama Kementerian Kesehatan dan Setwapres. Di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, upaya itu diperkuat lewat Program Makan Bergizi.

“Bagi kami, satu negara memberi makan kepada targetnya itu luar biasa. Ini program spektakuler, dan kami para ahli gizi terpanggil untuk menjaga kualitas standar gizinya,” kata Doddy.

Dalam edukasi kali ini, PERSAGI menekankan pentingnya pemahaman kualitas makan di sekolah. Menurut Doddy, makanan dari program pemerintah hanya mencakup sekitar 25–30 persen kebutuhan gizi harian anak.

Editorial Team