Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pimpin Apel Operasi ketupat 2026 di Monas, Kapolri Pastikan Mudik Aman
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama Panglima TNI Jenderal Agus Subianto memimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada Kamis (12/3/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Kapolri dan Panglima TNI memimpin Apel Operasi Ketupat 2026 di Monas, menegaskan pentingnya sinergi aparat demi mewujudkan tagline ‘Mudik Aman, Keluarga Bahagia’.
  • Sekitar 143,9 juta orang diperkirakan mudik tahun ini; pemerintah menyiapkan kebijakan seperti diskon tarif tol dan tiket transportasi umum untuk mendukung kelancaran perjalanan.
  • Puncak arus mudik diprediksi dua gelombang pertengahan Maret dengan potensi cuaca berawan hingga hujan lebat, sehingga seluruh petugas diminta siaga menghadapi kemungkinan bencana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama Panglima TNI Jenderal Agus Subianto memimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada Kamis (12/3/2026).

Dalam amanatnya, Kapolri menginstruksikan kepada seluruh jajaran agar dapat bertugas dengan sungguh-sungguh sehingga dapat mewujudkan tagline “Mudik Aman, Keluarga Bahagia”.

"Keberhasilan Operasi Ketupat merupakan tanggung jawab kita bersama. Untuk itu, terus tingkatkan soliditas dan sinergisitas dalam setiap pelaksanaan tugas, bersama kita wujudkan Mudik Aman, Keluarga Bahagia," ujarnya.

1. 143,9 juta orang bakal mudik tahun ini

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama Panglima TNI Jenderal Agus Subianto memimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada Kamis (12/3/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Sigit mengatakan, momentum Hari Raya Idul Fitri sangat penting untuk mendorong perekonomian nasional karena mampu mendorong perputaran uang yang signifikan dan memberikan multiplier effect di seluruh daerah.

Ia menjelaskan, dari hasil survei Kementerian Perhubungan, diperkirakan jumlah masyarakat yang akan melaksanakan mudik pada tahun ini mencapai 143,9 juta orang. Meskipun diperkirakan menurun 2,5 juta dibanding tahun lalu, Kapolri meminta seluruh petugas untuk tetap waspada dan mengantisipasi lonjakan jumlah masyarakat yang mudik.

"Terlebih lagi ada stimulus kebijakan pemerintah yang memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi masyarakat untuk melaksanakan mudik, antara lain diskon tarif tol dan tiket untuk transportasi umum, hingga kebijakan work from anywhere," tuturnya.

2. Puncak arus mudik diprediksi dua gelombang

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama Panglima TNI Jenderal Agus Subianto memimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada Kamis (12/3/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Kapolri mengingatkan puncak arus mudik diprediksi terjadi pada dua gelombang, yakni 14-15 Maret dan 18-19 Maret. Sementara untuk puncak arus balik diprediksi terjadi pada 24-25 Maret dan 28-29 Maret.

Ia menambahkan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah pengaturan lalu lintas selama periode Lebaran 2026 mulai dari pembatasan operasional angkutan barang, penerapan sistem one way, contra flow, dan ganjil-genap, pengaturan penyeberangan laut hingga alih fungsi penimbangan kendaraan sebagai tempat istirahat.

"Untuk itu, saya berharap seluruh personel memedomani dan mensosialisasikan pelaksanaan SKB ini, sehingga dapat dipahami dan dilaksanakan dengan baik," jelasnya.

3. Kondisi cuaca diprediksi berawan hingga hujan lebat

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama Panglima TNI Jenderal Agus Subianto memimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada Kamis (12/3/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Di sisi lain, Sigit mengingatkan, dari hasil perhitungan BMKG kondisi cuaca pada saat arus mudik Lebaran 2026 akan dalam kondisi berawan hingga hujan lebat. Oleh sebab itu, ia meminta agar seluruh anggota yang bertugas dalam kondisi siaga penuh menghadapi seluruh potensi bencana alam yang mungkin terjadi.

"Perlu kewaspadaan khusus terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah selatan Indonesia seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara," tuturnya.

"Untuk itu, diperlukan kesiapsiagaan baik penyiapan tim tanggap bencana, sarana dan prasarana pendukung, termasuk langkah-langkah penanganan bencana baik pada tahap pra, saat dan pascabencana," imbuhnya.

Editorial Team