ilustrasi Densus 88 (ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)
Rangkaian kunjungan juga diisi dengan silaturahmi bersama Tan Sri Abdul Hamid Bador dan Datuk Ing, yang membahas refleksi kerja sama penanganan terorisme serta penguatan program deradikalisasi.
Selanjutnya, Kapolda Riau bertemu dengan Unit Counter Terrorism E8 Malaysia, yang mengungkap adanya fenomena baru radikalisasi di kalangan anak muda, termasuk melalui media sosial dan game online.
Kedua pihak sepakat meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat pertukaran informasi intelijen untuk mendeteksi dini potensi ancaman tersebut.
“Radikalisasi saat ini berkembang dengan pola baru yang menyasar generasi muda. Oleh karena itu, kerja sama intelijen menjadi sangat penting untuk mencegahnya sejak dini,” katanya.
Selain isu kriminalitas, pembahasan juga mencakup isu lingkungan, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi berdampak lintas negara.
Polda Riau sendiri telah melakukan langkah preventif melalui program Desa Bebas Api serta penegakan hukum terhadap puluhan pelaku pembakaran hutan.
Kapolda bahkan mengundang pihak Malaysia untuk melakukan patroli udara bersama, guna melihat langsung kondisi wilayah serta mengantisipasi dampak kabut asap di kawasan regional.
Puncak kunjungan ditutup dengan pertemuan bersama Ketua Polis Melaka DCP Dzulkhairi Mukhtar. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama keamanan, termasuk dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terorisme, dan kejahatan lintas negara lainnya.
Lulusan Akpol 1996 ini juga menekankan kedekatan historis dan budaya antara Riau dan Melaka sebagai modal sosial dalam membangun kolaborasi yang lebih erat.
“Kita ini satu rumpun Melayu. Silaturahmi bukan sekadar pertemuan, tetapi menjadi jalan untuk menyatukan tujuan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah masing-masing,” ujarnya.