Kapolda Riau: Tak Ada Toleransi Buat Pelaku Karhutla!

- Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menegaskan penegakan hukum tanpa toleransi terhadap pelaku karhutla, dengan 74 kasus dan tersangka telah ditangani sepanjang 2025.
- Polda Riau memasang ratusan papan imbauan di wilayah rawan karhutla serta melibatkan berbagai pihak dalam upaya pemadaman dan pencegahan menjelang puncak musim kemarau.
- Prof. Bambang Hero mengingatkan potensi Super El Nino yang dapat memperparah karhutla, menekankan pentingnya langkah preventif, peringatan dini, dan pendekatan Green Policing oleh Polda Riau.
Jakarta, IDN Times - Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan, memastikan bakal menindak tegas pelaku kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya. Menurutnya, aspek penegakan hukum menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla.
Dia menjelaskan, sepanjang 2025 Polda Riau telah menangani 74 kasus karhutla dengan jumlah tersangka yang sama.
"Penegakan hukum harus tegas dan berkeadilan. Tidak boleh ada toleransi bagi pelaku pembakaran, baik yang disengaja maupun yang berlindung di balik alasan kelalaian," ujarnya saat turun ke lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Jumat (3/4/2026).
1. Polda Riau pasang ratusan papan imbauan

Sebagai langkah pencegahan, Polda Riau bersama stakeholder telah memasang ratusan papan imbauan di wilayah rawan karhutla. Plang tersebut tidak hanya berisi ancaman pidana, tetapi juga larangan pemanfaatan lahan bekas terbakar.
"Kami ingin ada efek jera. Lahan yang sudah terbakar tidak boleh dimanfaatkan kembali, termasuk untuk penanaman sawit. Ini bagian dari upaya moratorium agar kejadian serupa tidak terulang," ujarnya bersama Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) bidang perlindungan hutan, Prof Bambang Hero Suharjo, serta Kapolres Bengkalis, AKBP Fahrian Saleh Siregar.
Di tengah kondisi lapangan yang masih dipenuhi titik api, Herry menyapa langsung personel BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) yang terus berjibaku melakukan pemadaman.
"Kami hadir di sini untuk memberikan motivasi, dukungan moril dan memastikan upaya pemadaman dilakukan secara maksimal. Ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, tetapi harus kolaboratif melibatkan semua pihak," ujar Herry.
Dia menegaskan langkah strategis yang saat ini dilakukan adalah menemukan dan memutus titik api sedini mungkin agar kebakaran tidak meluas, terlebih menjelang puncak musim kemarau.
"Lebih baik bekerja keras sekarang sebelum memasuki puncak kemarau, daripada nanti memadamkan dalam kondisi yang jauh lebih besar dan sulit," ujarnya.
2. Sinyal fenomena Super El Nino

Sementara itu, Bambang mengingatkan situasi tahun ini memerlukan kewaspadaan ekstra seiring munculnya sinyal fenomena Super El Nino yang berpotensi memicu kekeringan panjang dan memperparah karhutla.
Dia menjelaskan, Super El Nino ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut hingga 2,7 derajat celsius di atas rata-rata, yang berdampak pada perubahan sirkulasi atmosfer global dan memicu cuaca ekstrem.
"Dengan kondisi 2,7 derajat ini, ini persis seperti kejadian kebakaran 1997–1998, ketika lahan yang terbakar mencapai 10 hingga 11 juta hektare dan menimbulkan korban jiwa hingga ratusan orang," kata Bambang.
Dalam peninjauan di Bengkalis, dia juga menyoroti kondisi tinggi muka air di kanal yang telah melebihi ambang batas aman, sehingga memperbesar potensi kebakaran.
"Ini harus segera dimitigasi secara komprehensif. Karena ke depan akan semakin kering dan kita akan kekurangan air," ujarnya.
3. Langkah preventif dan peringatan dini jadi kunci utama

Bambang menegaskan, kunci utama menghadapi ancaman tersebut adalah langkah preventif dan peringatan dini, yang juga ditekankan dalam berbagai studi ilmiah terbaru.
Dia turut mengapresiasi pendekatan Green Policing yang dijalankan Polda Riau, khususnya dalam upaya penanaman pohon sebagai bagian dari strategi jangka panjang pengendalian karhutla.
"Penanaman pohon ini bukan sekadar simbolik. Secara ilmiah, itu adalah cara untuk menekan emisi gas rumah kaca akibat kebakaran. Kalau tidak diimbangi, emisi yang kita lepaskan akan semakin besar," katanya.
Menanggapi hal tersebut, Herry kembali menegaskan penanganan karhutla harus dilakukan secara terintegrasi, tidak hanya dari sisi pemadaman, tetapi juga pencegahan, penegakan hukum, dan pendekatan ekologis.
"Kami bergerak bersama mencari titik api secara strategis. Tujuannya agar tidak terjadi rembetan di tempat lain. Ini adalah komitmen bersama lintas sektor untuk melindungi lingkungan dan masyarakat,” ujar Herry.


















