Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi terorisme. (IDN Times/Sukma Shakti)
Ilustrasi terorisme. (IDN Times/Sukma Shakti)

Intinya sih...

  • Pemerintah harus bisa melakukan pencegahan terhadap paparan radikalisme di dunia digital sehingga fokus pemerintah tidak hanya melakukan penindakan.

  • Efisiensi anggaran terhadap penanggulangan terorisme tidak menghambat peluang bagi inovasi dan kegiatan edukasi dalam rangka upaya preventif radikalisme sejak usia dini.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Vita Ervina, mengatakan, harus ada upaya menekan paparan radikalisme di dunia digital. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), ada 112 anak terpapar paham radikalisme melalui media sosial dan game online sepanjang tahun 2025.

Vita mengatakan, DPR memberikan perhatian penuh terhadap statistik BNPT yang menunjukkan adanya kasus anak-anak terpapar ideologi radikal sepanjang tahun 2025. Menurut dia, temuan tersebut merupakan sinyal bahaya karena lingkungan digital telah berubah menjadi wilayah baru penyebaran paham kekerasan yang secara spesifik menargetkan anak-anak.

“Data ini menjadi alarm keras bahwa ruang digital telah menjadi medan baru penyebaran ideologi kekerasan yang menyasar kelompok paling rentan, yakni anak-anak,” kata Vita dalam keterangannya, dikutip Minggu (4/1/2026).

1. Harus ada pencegahan

ilustrasi terorisme (IDN Times/Aditya Pratama)

Vita mengatakan, pemerintah harus bisa melakukan pencegahan terhadap paparan radikalisme di dunia digital sehingga fokus pemerintah tidak hanya melakukan penindakan.

Menurut Vita, anak-anak yang terjerat paham ekstremis sebetulnya adalah korban dari rendahnya kemampuan literasi digital, kurangnya kontrol orangtua atau pihak terkait, serta belum optimalnya program-program kontra-radikalisasi yang tidak selaras dengan perkembangan teknologi dan kebiasaan digital generasi muda saat ini.

“Penanganan persoalan ini harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga platform digital yang digunakan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari,” kata dia.

2. Efisiensi anggaran diharapkan tidak pengaruhi pencegahan paham radikalisme

Ilustrasi terorisme (IDN Times/Sukma Shakti)

Vita berharap, efisiensi anggaran terhadap penanggulangan terorisme tidak menghambat peluang bagi inovasi dan kegiatan edukasi dalam rangka upaya preventif radikalisme sejak usia dini.

“Upaya-upaya kreatif seperti kampanye digital ramah anak, kolaborasi dengan platform gim dan media sosial, hingga penguatan literasi digital di lingkungan keluarga dan sekolah harus tetap dimaksimalkan,” ujar dia.

3. Negara tidak boleh membiarkan anak-anak terpapar paham ekstrem

Ilustrasi Teroris (IDN Times/Arief Rahmat)

Vita mengatakan, negara tidak boleh membiarkan anak-anak terpapar paham ekstrem. Oleh karena itu, negara harus memiliki sistem pencegahan yang baik.

“Anak-anak tidak boleh dibiarkan on the way menjadi pelaku terorisme. Negara harus hadir membangun sistem pencegahan yang kuat,” ujar Vita.

Editorial Team