Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Polri: Tak Ada Kejadian yang Ganggu Stabilitas Kamtibmas Operasi Ketupat
Polisi bersiaga lewat Operasi Ketupat 2026 jelang hari raya Idul Fitri. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)
  • Polri menyatakan Operasi Ketupat 2026 berjalan aman tanpa gangguan kamtibmas, dengan laporan kecelakaan lalu lintas mencapai 260 kasus dan kerugian materiel sekitar Rp695,7 juta.
  • Korlantas Polri menghentikan rekayasa lalu lintas one way nasional setelah arus kendaraan dinilai landai dan terkendali, sehingga lalu lintas kembali normal dua arah.
  • Menjelang Idul Fitri, Polri fokus pada pengamanan malam takbiran hingga wisata pascalebaran serta mengimbau masyarakat memanfaatkan diskon tol dan WFA untuk hindari penumpukan kendaraan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menyebutkan tidak terdapat kejadian menonjol yang mengganggu stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) dalam pelaksanaan Operasi Ketupat 2026.

Juru Bicara Humas Satuan Tugas Operasi Ketupat 2026 Komisaris Besar Polisi Jansen Avitus Panjaitan mengatakan hal tersebut berdasarkan laporan periode Jumat (20/3/2026) pukul 18.00 WIB hingga Sabtu (21/3/2026) pukul 06.00 WIB.

"Pelaksanaan Operasi Ketupat hingga hari ke-9 berjalan aman dan kondusif," ucap Kombes Pol. Jansen dalam keterangan di Jakarta, melansir ANTARA.

Di bidang lalu lintas, ia menyebut terdapat sebanyak 260 kejadian kecelakaan dengan rincian 15 orang meninggal dunia, 25 orang luka berat, dan 272 orang luka ringan, sehingga total kerugian materielnya mencapai Rp695,7 juta.

Dengan demikian, kata dia, Polri terus mengimbau masyarakat agar mengutamakan keselamatan selama perjalanan.

Sementara itu, Jansen mengungkapkan volume arus lalu lintas keluar Jakarta melalui empat gerbang tol utama tercatat sebanyak 48.440 kendaraan atau turun 13,86 persen dibandingkan kondisi normal.

Sebaliknya, arus masuk Jakarta tercatat 20.519 kendaraan atau turun 56,42 persen dibandingkan kondisi normal.

Seiring dengan kondisi lalu lintas yang cenderung landai dan terkendali, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri secara resmi menghentikan penerapan rekayasa lalu lintas satu arah alias one way nasional pada arus mudik Lebaran 2026.

Dia menyampaikan kebijakan diambil setelah melalui evaluasi bersama dan proses sosialisasi kepada masyarakat. Ia melanjutkan, penghentian satu arah dilakukan karena kondisi arus kendaraan sudah kembali normal dan terkendali.

“Berdasarkan hasil evaluasi, arus lalu lintas terpantau landai dan terkendali, sehingga rekayasa one way nasional dihentikan dan arus kendaraan kembali normal dua arah,” ujarnya.

Ia menuturkan kebijakan rekayasa lalu lintas akan terus bersifat dinamis menyesuaikan dengan kondisi di lapangan guna memastikan mobilitas masyarakat tetap berjalan lancar.

Saat ini, lanjut Jansen, arus kendaraan, baik menuju Jakarta maupun ke arah Trans Jawa terpantau normal.

Dia menyebutkan jajaran kepolisian pun mulai memfokuskan pengamanan pada rangkaian Hari Raya Idul Fitri, mulai dari malam takbiran, pelaksanaan Shalat Id, hingga pengamanan di lokasi wisata.

Di sisi lain, Polri juga mengingatkan masyarakat terkait potensi meningkatnya mobilitas setelah Lebaran.

Ditegaskan bahwa kesiapan personel di lapangan akan terus ditingkatkan, baik dalam pengaturan lalu lintas maupun pengamanan di titik rawan kepadatan.

"Pengelolaan arus balik dipastikan akan dilakukan secara optimal sebagaimana pada saat arus mudik," ungkap Jansen.

Dengan demikian, masyarakat diimbau untuk memanfaatkan diskon tarif tol pada 26-27 Maret 2026 serta kebijakan Bekerja dari Mana Saja (WFA) guna menghindari penumpukan kendaraan dalam satu waktu.

Selain itu, Kepolisian juga telah mengantisipasi potensi kepadatan akibat kegiatan halalbihalal dan peningkatan kunjungan ke objek wisata, khususnya wisata air.

Masyarakat dan pengelola diminta untuk memperhatikan kapasitas angkut serta mengutamakan keselamatan.

Polri menegaskan keberhasilan Operasi Ketupat 2026 merupakan hasil sinergisitas berbagai pihak, antara lain TNI, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian Kesehatan, Basarnas, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jasa Raharja, pemerintah daerah, serta partisipasi aktif masyarakat.

Editorial Team