Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto menyoroti besarnya potensi ekonomi dan sumber daya alam (SDA) Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam rasio penerimaan negara terhadap produk domestik bruto (PDB).
Prabowo mengatakan Indonesia memiliki bonus demografi yang menopang konsumsi domestik serta pasar dalam negeri yang besar. Menurut dia, pasar Indonesia bisa sebesar Eropa dengan dukungan sumber daya alam yang melimpah.
Hal itu Prabowo sampaikan pada Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027, dalam rapat paripurna ke-19 masa persidangan V Tahun sidang 2025-2026.
"Kita punya komoditas-komoditas yang sangat berharga. Batu bara kita, nikel kita, tembaga kita, minyak kelapa sawit kita, logam tanah jarang, kekayaan laut yang melimpah," kata Prabowo dalam pidatonya, Rabu (20/5/2026).
Di sektor kelapa sawit, Indonesia disebut sebagai pengekspor terbesar di dunia dengan devisa ekspor mencapai 23 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp391 triliun pada 2025.
Selain itu, Indonesia juga menjadi pengekspor batu bara terbesar di dunia dengan devisa ekspor mencapai 30 miliar dolar AS atau setara Rp510 triliun pada 2025.
Sementara itu, devisa ekspor paduan besi atau ferrous alloy disebut mencapai 16 miliar dolar AS atau setara Rp272 triliun pada 2025, menjadikan Indonesia sebagai pengekspor terbesar di dunia untuk komoditas tersebut.
Secara keseluruhan, tiga komoditas strategis itu menghasilkan devisa lebih dari 65 miliar dolar AS atau setara Rp1.100 triliun per tahun.
"Rasio penerimaan kita terhadap PDB adalah yang paling rendah di antara negara-negara G20," kata dia.
Berdasarkan data IMF, dia menyebut rasio pendapatan Meksiko mencapai 25 persen dari PDB, India 20 persen, Filipina 21 persen, dan Kamboja 15 persen. Sementara Indonesia masih berada di kisaran 11 hingga 12 persen dari PDB.
"Sekarang pun kita masih di bawah Malaysia. Apa yang sebabkan kita tidak mampu? Bedanya apa kita sama orang Malaysia, orang Kamboja? Bedanya apa kita dengan orang Filipina?" tanyanya.
