Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pramono Lirik Teknologi Hidrotermal untuk Olah Sampah Jakarta, Cuma 2 Jam!
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melantik 11 Pejabat di lingkungan Pemprov DKI di Balai kota, Rabu (15/4/2026). (Dok. Pemprov DKI)
  • Gubernur Pramono Anung menyoroti lambannya pengolahan sampah organik di Jakarta dan mendorong penerapan teknologi hidrotermal untuk mempercepat prosesnya.
  • Teknologi hidrotermal mampu memangkas waktu olah sampah dari tujuh hingga sepuluh hari menjadi sekitar dua jam, menghasilkan pupuk cair dan residu padat bernilai guna.
  • Pramono menegaskan pasar tradisional harus ikut mengolah sampah di sumbernya agar tak bergantung pada TPA serta menciptakan lingkungan pasar yang bersih dan berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Pramono lihat banyak sampah di pasar Kramat Jati. Sampahnya dari sayur, buah, dan makanan. Dia bilang sampah itu lama dibuangnya. Sekarang dia mau pakai alat baru namanya hidrotermal biar cepat jadi pupuk. Katanya cuma dua jam bisa jadi pupuk cair. Pasar jadi lebih bersih dan gak bau lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dorongan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk menerapkan teknologi hidrotermal menunjukkan langkah nyata menuju pengelolaan sampah yang lebih efisien dan bernilai. Dengan kemampuan mempercepat proses hingga 80 kali lipat serta menghasilkan pupuk cair dan media tanam, inisiatif ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah membangun pasar yang bersih, produktif, dan ramah lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti lambannya pengolahan sampah organik di Jakarta dan mulai mendorong teknologi hidrotermal sebagai solusi percepatan. Saat meninjau Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (11/5/2026), Pramono mengungkapkan teknologi tersebut mampu memangkas proses pengolahan sampah dari tujuh hingga 10 hari jadi hanya dua jam per proses.

“Dengan teknologi hidrotermal, waktu pengolahan sampah dapat dipangkas menjadi sekitar dua jam untuk setiap batch. Ini merupakan inovasi yang sangat baik karena mampu mempercepat proses pengolahan sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomis,” kata dia, Senin.

1. Pasar tradisional hasilkan sampah sampah organik

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur pada Selasa (16/12/2025) usai terbakar. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Pemprov DKI menilai pasar tradisional menjadi titik krusial persoalan sampah Jakarta karena menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar setiap hari. Di Pasar Kramat Jati saja, volume sampah mencapai sekitar enam ton per hari dengan dominasi 75-80 persen berupa sampah organik seperti sayur, buah, daun, dan sisa makanan.

2. Percepat pengolahan hingga 80 kali dibanding metode konvensional

Pasar Induk Kramat Jati. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Hasil uji coba pada April 2026 menunjukkan sebanyak 1.708,1 kilogram sampah organik berhasil diolah menjadi 936 liter pupuk cair. Teknologi tersebut disebut mampu mempercepat pengolahan hingga 80 kali dibanding metode konvensional. Selain pupuk cair, residu padat hasil pengolahan juga dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam dan pupuk organik.

Pramono menilai pengolahan sampah di tingkat sumber menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap TPST Bantargebang.

3. Pasar tak bisa hanya bergantung ke TPA

Pedagang cabai di Pasar Induk Kramat Jati. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Dia mengatakan, pasar tradisional tak bisa lagi hanya bergantung pada sistem angkut-buang sampah ke tempat pembuangan akhir atau TPA. Menurutnya, pasar harus mulai menjadi bagian dari solusi pengurangan sampah kota.

“Pengolahan sampah organik menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pasar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Kami ingin pasar-pasar di Jakarta tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga menjadi ruang publik yang nyaman dan ramah lingkungan,” katanya.

Editorial Team