Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Profil Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP yang Jadi Sorotan Publik
Dwi Sasetyaningtyas. (IDN Times/Anjani Eka)
  • Dwi Sasetyaningtyas, alumni LPDP dan lulusan ITB, jadi sorotan publik setelah unggahan paspor Inggris anaknya memicu perdebatan soal nasionalisme dan etika penerima beasiswa negara.
  • Tyas dikenal aktif di bidang lingkungan dan sosial, mendirikan Sustaination, menginisiasi penanaman mangrove, serta memberdayakan perempuan selama masa kontribusinya di Indonesia.
  • LPDP menyesalkan pernyataannya yang dianggap tidak mencerminkan integritas alumni beasiswa; Tyas mengklarifikasi bahwa unggahannya merupakan bentuk kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Belakangan ini, jagat media sosial kembali diramaikan perbincangan soal nasionalisme, etika penerima beasiswa, hingga tanggung jawab moral terhadap negara.

Diskusi tersebut bermula dari unggahan konten Dwi Sasetyaningtyas atau Tyas yang memperlihatkan paspor Inggris milik anaknya. Kalimat yang menyertai unggahan itu memicu pro dan kontra karena dinilai sensitif, terutama mengingat Tyas merupakan alumni beasiswa negara dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Unggahan tersebut sontak viral di Instagram dan Threads. Banyak warganet mempertanyakan sikapnya sebagai mantan penerima beasiswa pendidikan dari pajak masyarakat. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang membela dan menganggap pernyataannya sebagai ekspresi pribadi.

Berikut adalah profil Dwi Sasetyaningtyas yang kini menjadi sorotan publik.

1. Lulusan ITB dengan rekam jejak akademik kuat

foto Institut Teknologi Bandung ITB (admission.itb.ac.id)

Tyas memulai pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2009, dengan mengambil jurusan Teknik Kimia, salah satu program studi yang dikenal menuntut ketelitian dan ketekunan tinggi.

Ia menyelesaikan studinya pada 2013 dengan IPK 3,34. Selama kuliah, Tyas aktif sebagai asisten laboratorium, menunjukkan keterlibatan akademik di luar ruang kelas. Capaian tersebut menjadi salah satu modal kuatnya untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

2. Lolos beasiswa LPDP dan studi ke Belanda

Delft University of Technology (dutchschooloflandscapearchitecture.nl)

Pada 2015, Tyas lolos seleksi LPDP angkatan PK-35, program yang dikenal memiliki persaingan ketat. Ia melanjutkan studi magister di Delft University of Technology, Belanda, dengan mengambil program Sustainable Energy Technology.

Dalam studi tersebut, Tyas meneliti model bisnis panel surya (Solar PV) sebagai solusi penyediaan listrik di desa-desa terpencil, khususnya di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Fokus risetnya dinilai relevan dengan kebutuhan energi terbarukan di Indonesia, terutama untuk wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

3. Pernah berkarier di perusahaan multinasional

ilustrasi kerja kantoran (pexels.com/Vlada Karpovich)

Sebelum melanjutkan studi ke luar negeri, Tyas sempat bekerja sebagai Customer Business Development Manager di Procter & Gamble (P&G).

Pengalaman di perusahaan multinasional tersebut memperkaya rekam jejak profesionalnya, sebelum akhirnya Tyas memilih jalur yang lebih dekat dengan isu lingkungan dan sosial.

4. Dikenal sebagai aktivis lingkungan dan sociopreneur

Dwi Sasetyaningtyas selaku founder Sustaination. (IDN Times/Anjani Eka)

Sepulang dari Belanda, Tyas menjalani masa kontribusi di Indonesia dalam kurun 2017–2023. Ia dikenal aktif di bidang lingkungan dan kewirausahaan sosial.

Beberapa kiprah yang pernah dilakukan antara lain:

  • Mendirikan sustaination

Sebuah bisnis berbasis produk ramah lingkungan yang mendorong gaya hidup zero waste sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah.

  • Inisiasi penanaman 10.000 mangrove

Ia terlibat dalam gerakan penanaman pohon bakau di sejumlah wilayah pesisir sebagai upaya mitigasi krisis iklim.

  • Pemberdayaan Perempuan dan masyarakat

Tyas disebut membantu ibu rumah tangga memperoleh penghasilan dari rumah, terlibat dalam pembangunan sekolah di NTT, serta kegiatan tanggap bencana di Sumatra.

  • Membangun komunitas digital

Melalui akun seperti @sustaination, @ceritakompos, dan @bisnisbaikclub, ia membangun ekosistem edukasi seputar bisnis berkelanjutan dan gaya hidup ramah lingkungan.

Rekam jejak ini membuat banyak pihak sebelumnya menilai Tyas sebagai contoh alumni LPDP yang aktif berkontribusi bagi masyarakat.

5. Tinggal di Inggris dan sorotan terhadap status pengabdian

ilustrasi negara Inggris (unsplash.com/Heidi Fin)

Saat ini, Tyas tinggal di Inggris untuk mendampingi suaminya, Arya Pamungkas Iwantoro, yang bekerja sebagai Senior Research Consultant di University of Plymouth. Keduanya diketahui pernah menjadi penerima beasiswa LPDP.

Tyas disebut telah menyelesaikan kewajiban kontribusinya di Indonesia. Namun, isu berkembang sang suami diduga belum menuntaskan kewajiban pascastudi. Hal ini kemudian memicu perhatian publik dan pernyataan resmi dari LPDP.

LPDP menyampaikan penyesalan atas pernyataan Tyas yang dinilai tidak mencerminkan integritas sebagai alumni penerima beasiswa negara. Sementara, pihak terkait disebut berpotensi dimintai klarifikasi terkait status kontribusi. Jika terbukti melanggar ketentuan, sanksi yang dapat dijatuhkan termasuk kewajiban pengembalian dana beasiswa.

6. Klarifikasi Tyas: ungkapan kekecewaan pada kebijakan

Dwi Sasetyaningtyas. (IDN Times/Anjani Eka)

Menanggapi polemik yang berkembang, Tyas pun buka suara. Ia menyebut pernyataannya muncul sebagai bentuk kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah yang menurutnya belum berpihak pada rakyat.

Meski demikian, sebagian warganet tetap menilai cara penyampaian tersebut kurang tepat, dan berpotensi melukai perasaan publik, terutama karena konteksnya menyangkut kewarganegaraan dan nasionalisme.

Kasus ini menjadi contoh bagaimana satu unggahan di ruang digital dapat memicu diskusi luas tentang identitas, tanggung jawab moral, hingga etika penerima dana publik. Di era media sosial, rekam jejak panjang yang telah dibangun bertahun-tahun pun bisa diuji dalam hitungan jam oleh opini publik.

Editorial Team