Jakarta, IDN Times - Kabupaten Klaten lagi-lagi menjadi sorotan. Bila tempo hari ia disorot karena mantan bupatinya, Sri Hartini, dicokok oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi. Maka, kali ini bupati penggantinya, Sri Mulyani, juga berbuat blunder.
Stiker dengan wajah perempuan yang akrab disapa Yani itu, ditemukan di bantuan sosial dari Kementerian Sosial untuk disalurkan ke warga Klaten. Kelakuan Yani sontak menuai kritik tidak saja dari warga Klaten sendiri, tetapi juga warganet di media sosial.
Warganet menilai Yani menyalahgunakan kewenangannya sebagai bupati dalam situasi pandemik COVID-19 untuk curi start berkampanye. Padahal, Yani masih menjabat hingga 2021 mendatang.
Tetapi, warganet rupanya menemukan benda lain yang diberikan sebagai bantuan tetapi turut dikasih stiker dengan wajah Yani di benda tersebut. Bantuan berupa beras, buku hingga tas.
Melalui akun media sosialnya, Yani akhirnya meminta maaf soal penyematan stiker di bantuan Kemensos berupa hand sanitizer. Ia membantah mencoba mengambil keuntungan pribadi melalui pemberian bansos bagi warga yang terdampak pandemik virus corona.
"Tidak ada maksud menumpangi atau mengambil keuntungan pribadi, karena selain mendapat bantuan dari Kemensos, saya juga membuat bantuan hand sanitizer sendiri yang memang ada stiker dari saya," ungkap Yani.
Ia turut menjelaskan pemberian bantuan sosial yang diserahkan di kantor DPC PDI Perjuangan Klaten bersumber dari dana pribadi. Sebab, kini Yani menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Klaten.
Bagaimana rekam jejak Yani selama ini memimpin Klaten? Sebab, bila ditelusuri, hampir selama 20 tahun, kabupaten itu dipimpin oleh orang-orang dari keluarganya.