Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam kegiatan Intimate Dialogue Kota Tua Update yang digelar di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, pada Kamis (9/3) (jakarta.go.id)
Bagi Pemprov DKI Jakarta, masa depan Jakarta tidak hanya dibangun melalui gedung pencakar langit dan kawasan bisnis modern. Nilai sejarah dan budaya juga menjadi modal penting untuk meningkatkan daya tarik kota di tingkat global.
Karena itu, penataan Kota Tua akan difokuskan pada kawasan inti, termasuk Alun-alun Fatahillah dan Museum Bahari. Penataan area parkir, jalur pedestrian, serta aktivitas pedagang kaki lima juga menjadi bagian dari upaya menciptakan kawasan yang lebih tertib dan nyaman bagi pengunjung.
Kota Tua diharapkan tidak hanya ramai saat akhir pekan. Kawasan ini ditargetkan menjadi ruang publik yang hidup sepanjang hari, mudah dijangkau dengan transportasi publik, serta semakin menarik bagi wisatawan dari dalam maupun luar negeri.
Selain Kota Tua, Pemprov DKI Jakarta berkomitmen menjaga kawasan cagar budaya lain seperti Pasar Baru dan Glodok agar tetap menjadi bagian penting dari identitas Jakarta.
Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, beberapa tahun mendatang warga tak hanya datang ke Kota Tua dan sekitarnya untuk bernostalgia. Kawasan bersejarah ini berpeluang menjelma menjadi ruang publik modern yang tetap menjaga jejak masa lalu Jakarta, sekaligus menjadi salah satu wajah kota global yang tengah dibangun menuju usia lima abad pada 2027. (WEB)