Comscore Tracker

Tempat Nasi Gratis, Gerakan Kemanusiaan untuk Berbagi Makanan di Jogja

Gerakan ini menjadi wadah untuk menyalurkan bantuan makanan

Yogyakarta, IDN Times - Ada banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk berbagi kepada sesama, salah satunya dengan menyumbang nasi bungkus kepada orang-orang yang bekerja di jalanan Yogyakarta.

Hal itu pula yang seakan menjadi "bahan bakar" dan melatarbelakangi awal terbentuknya Tempat Nasi Gratis Jogja. Gerakan ini menjadi wadah untuk menyalurkan kebaikan orang-orang yang ingin berbagi sekaligus sebagai tempat berbagi makanan bagi orang yang membutuhkan guna menyambung hidup.

Baca Juga: Garuk Sampah, Gerakan Kolektif Bersihkan Polusi Visual di Yogyakarta

1. Vero membuka Tempat Nasi Gratis Jogja pertama di kawasan YAP Square

Tempat Nasi Gratis, Gerakan Kemanusiaan untuk Berbagi Makanan di JogjaVeronica saat pembukaan etalase ke-2 di Janti - Instagram.com/vchristamia

Kegelisahan untuk membantu sesama dirasakan Veronica Christamia Juniarmi selaku founder Tempat Nasi Gratis Jogja.  Pertama kali tercetus ide untuk membantu sesama karena ia melihat banyaknya tukang becak hingga pedagang asongan di Yogyakarta yang menurutnya perlu dibantu.

"Saya suka kuliner malam kan dan waktu itu di area Fakultas Teknik Universitas Teknik Yogyakarta (UNY) ada kayak bapak becak, penjual asongan gitu yang sering saya lihat di situ. Terus kepikiran mau bikin apa ya yang bisa bantu, tapi saya juga gak perlu repot-repot buat jagain," ungkap Vero kepada IDN Times pada Kamis (9/7/2020).

Vero teringat dirinya pernah melihat sebuah etalase untuk berbagi di Bandung, sehingga terinspirasi untuk membuatnya di Yogyakarta.

Tempat Nasi Gratis Jogja yang dibuat Vero berupa etalase kaca. Gerakan yang kemudian disebut ETA ini adalah ajakan untuk meletakkan nasi bungkus, makanan ringan, hingga minuman yang diletakkan di etalase yang telah disediakan.

Setiap orang boleh meletakkan makanan dan minuman, dan siapa pun yang membutuhkan boleh mengambilnya. Bulan Februari 2019 menjadi awal mula pembukaan ETA pertamanya di kawasan YAP Square.

2. Sudah ada 9 titik etalase nasi gratis di Yogyakarta

Tempat Nasi Gratis, Gerakan Kemanusiaan untuk Berbagi Makanan di JogjaInstagram.com/tempatnasigratisjogja

Selain berdonasi langsung dengan meletakkan makanan di ETA, Vero juga membuka donasi melalui nomor rekeningnya.

"Bisa langsung kasih makanan ke etalase, bisa jajanan, sayuran, minuman juga sih tapi mungkin nasi bungkus bisa lebih praktis karena bisa langsung dimakan ya, bisa juga donasi uang ke nomor rekening kami," ungkap Vero.

Saat ini jumlah ETA untuk nasi gratis di Yogyakarta sudah ada di 9 titik di antaranya di kawasan YAP Square, Janti, Malioboro, Gedongkuning, Godean, Gejayan, Jalan Kaliurang, Ambarrukmo, dan Lempuyangan.

3. Lokasi penempatan etalase diseleksi agar sumbangan tepat sasaran

Tempat Nasi Gratis, Gerakan Kemanusiaan untuk Berbagi Makanan di JogjaInstagram.com/tempatnasigratisjogja

Vero mengatakan bahwa ia dan tim selektif dalam memilih titik lokasi penempatan ETA, agar sumbangan makanan yang diberikan tepat sasaran.

"Semua tempat yang kami pakai ini kami riset dulu selama puasa kemarin pas kami on the road  bagi-bagi nasi. Jadi kami pilih benar-benar yang daerahnya ramai tukang parkir misalnya, atau pemulung gitu, jadi biar tepat sasaran dan bermanfaat juga. Kan bikin ETA itu mahal ya, dari uang amanah orang-orang juga, jadi ya kami pikirkan matang-matang tempatnya," ungkap Vero.

Vero juga mengungkapkan bahwa orang-orang yang mengambil makanan di ETA sangat beragam. Mulai dari anak indekos hingga pemulung.

"Yang ambil beragam mas, mau kita ya yang benar-benar membutuhkan tapi kadang ada anak kost, ojol gitu-gitu juga, ya yang namanya orang lagi susah kan kita gak tahu ya. Kami sebetulnya juga ingin mengedukasi masyarakat untuk bisa bersyukur dan berbagi dengan ETA ini," ujar Vero.

Menurut Vero, adanya makanan gratis juga dapat dilihat mereka mengambil sendiri atau dibagikan kepada teman-temannya.

" Etalase kan gak dijaga to, jadi ya kelihatan benar sifat orang itu. Kadang ada kayak ojol yang ambil tapi begitu lihat ada pemulung lewat jadi gak jadi," ungkap Vero.

Baca Juga: Tutup Usia, Perjalanan Karier Papa T Bob Pencipta Lagu Anak 90-an

4. Awalnya bekerja di Tiongkok, karena pandemik ini Vero pulang ke Jogja

Tempat Nasi Gratis, Gerakan Kemanusiaan untuk Berbagi Makanan di JogjaInstagram.com/tempatnasigratisjogja

Vero mengungkap awal pembuatan etalase diambil dari uang pribadi. Menurutnya, jika etalase bisa membuat orang berbagi lebih banyak dan bisa membuat orang dapat makan maka jika memang rezekinya akan diganti oleh yang di atas.

Vero sendiri awalnya adalah pengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing di sebuah universitas di Tiongkok. Ketika dirinya harus kembali ke Indonesia akibat pandemik, justru menjadi lebih fokus mengurus ETA yang sudah dia dirikan sebelumnya.

"Pengalaman di Tiongkok bikin saya jadi semangat buat berbagi di sini, karena itu yang sekarang paling dibutuhkan. Saya yakin orang baik di Jogja itu banyak, hanya mungkin belum ada wadahnya saja," ucap Vero. 

5. Pandemik justru menjadi momen tepat untuk orang lebih banyak berbagi

Tempat Nasi Gratis, Gerakan Kemanusiaan untuk Berbagi Makanan di JogjaInstagram.com/tempatnasigratisjogja

Selama pandemik ini, Vero mengungkapkan bahwa Tempat Nasi Gratis Jogja justru semakin terasa manfaatnya. Menurutnya hal ini menjadi wadah yang tepat untuk orang berbagi selama pandemik.

"Pas pandemik ini baru benar-benar kerasa manfaat ETA untuk berbagi karena bisa menjawab kekhawatiran orang yang mau berbagi tapi gak ada waktu buat mutar makanan. Bisa touchless juga dan gak khawatir tentang siapa yang ambil karena tempatnya emang sudah tempat yang strategis gitu di kawasan yang banyak orang lihat," ungkap Vero.

6. Vero berharap agar ETA bisa lebih diterima dan semakin banyak yang melakukan gerakan serupa

Tempat Nasi Gratis, Gerakan Kemanusiaan untuk Berbagi Makanan di JogjaSeorang donatur menata makanan di ETA - Instagram.com/tempatnasigratisjogja

Rencana selanjutnya, Vero ingin lebih mengedukasi orang-orang agar mau berbagi melalui ETA. Menurutnya, ETA bukan sekadar etalase makanan, tapi ada banyak pesan yang disampaikan yaitu bisa berbagi, bersyukur, berempati, saling melengkapi, dan membuat Yogyakarta bisa semakin kuat di masa pandemik ini.

Vero mengatakan gerakan serupa telah muncul di Jakarta dan Bandar Lampung. Dirinya juga sering bertanya kepada pengikutnya di sosial medianya apakah berniat ingin membuka gerakan serupa di kotanya masing-masing.

Baca Juga: 5 Artis Indonesia Ini Selamatkan Lingkungan Lewat Gerakan

Topic:

  • Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Berita Terkini Lainnya