Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sebut Rakyat Desa Gak Pakai Dolar, Prabowo Disebut Pemimpin Antikritik
Executive Director of Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya dalam OCBC EXPERIENCE Political Outlook Leading Through Change di The Ritz-Carlton Jakarta, Selasa (14/11/2023). (IDN Times/Trio Hamdani)
  • Yunarto Wijaya menilai gaya kepemimpinan Presiden Prabowo antikritik dan cenderung menerima laporan positif saja, mencerminkan budaya asal bapak senang di lingkaran pemerintahannya.
  • Menurut Yunarto, gaya kepemimpinan Prabowo berbeda dari presiden sebelumnya yang lebih terbuka terhadap kritik dan fokus mencari solusi atas masalah ekonomi sebelum menyampaikan ke publik.
  • Dalam menanggapi pelemahan rupiah, Prabowo menilai kekhawatiran publik berlebihan dan menegaskan ekonomi Indonesia tetap stabil karena masyarakat desa tidak bergantung pada dolar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Presiden Prabowo dibilang suka marah kalau dikritik. Ada orang namanya Yunarto yang bilang Prabowo cuma mau dengar kabar bagus saja. Katanya, dulu presiden lain kalau ada masalah langsung cari cara supaya beres. Sekarang Prabowo bilang ekonomi Indonesia masih aman walau rupiah lemah dan orang desa tidak pakai dolar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, menilai gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto antikritik. Terlebih, Prabowo kerap merespons sejumlah isu dengan kalimat yang menimbulkan kontroversi.

"Ini bukan sekadar masalah komunikasi politik, tapi ini masalah mindset dan karakter kepemimpinan, ya. Jadi apa yang keluar dari pidato, bagaimana kemudian menyikapi sebuah masalah, ini sebenarnya cerminan dari karakter kepemimpinan seorang," ujar Yunarto saat dihubungi IDN Times, Minggu (17/5/2026).

Yunarto mencontohkan, ada kesamaan pola Presiden Prabowo saat merespons mengenai isu anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Selain itu, Prabowo juga menyebut angka keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih 0, 0017 persen.

"Ini kan memang mengindikasikan apa ya kecenderungan agak antikritik, yang pertama, harus saya katakan kecenderungan kepemimpinan antikritik," ucap dia.

Selain itu, pria yang akrab disapa Toto itu menilai, Presiden Prabowo juga sering mendapat laporan yang baik saja, alias asal bapak senang (ABS).

"Yang kedua tidak cenderung terlihat sekali terbiasa dengan pemberitaan yang positif saja, atau saya curiga memang ada budaya asal bapak senang (ABS) di sekelilingnya. Sehingga ketika kemudian kritik itu muncul, yang yang dilakukan adalah upaya untuk menyangkal hal-hal tersebut, bukan kemudian menerima sebuah kenyataan dan mencari solusi," kata dia.

1. Gaya Prabowo tidak pernah terjadi di era kepemimpinan Indonesia terdahulu

Direktur eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya. (Istimewa)

Yunarto menilai, gaya kepemimpinan Prabowo tidak pernah terjadi pada kepemimpinan Indonesia sebelumnya. Menurutnya, para pemimpin sebelumnya terlebih dulu mencari solusi sebelum menyampaikan kepada publik.

"Jadi, kalau kita lihat apa yang terjadi pada masa SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), Jokowi, Ibu Mega sekalipun, termasuk Pak Habibie misalnya ya, kalau kita bicara pasca-reformasi, saya pikir semua dari mereka ketika ada masalah, terutama dalam hal ekonomi, mereka cenderung akan mengakui bahwa ada masalah, penyangkalannya itu dilakukan dengan kemudian mencari solusi," ucap dia.

"Tapi tenang, karena pemerintah telah melakukan dan akan melakukan kebijakan-kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut. Nah, pemerintahan Prabowo ini khas seperti kemudian masalahnya sendiri, disangkal dan seperti hidup di dunia sendiri," sambung Yunarto.

Lebih lanjut, Yunarto mengatakan, Prabowo seharusnya tidak mengeluarkan pernyataan yang dianggap membenarkan pemerintahannya sendiri. Dia mengatakan apabila ada masalah, harus diakui.

"Menenangkan masyarakat itu dimulai dengan mengakui ada masalah, mengidentifikasi masalahnya apa, lalu kemudian solusi yang diberikan oleh pemerintah melalui kebijakan itulah yang akan menenangkan masyarakat, bukan dengan menyangkal masalah," ujar dia.

2. Prabowo respons kritik nilai tukar rupiah melemah

Prabowo di acara peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). (IDN Times/M Ilman Nafi'an)

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto merespons kritik terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat lebih dari Rp17 ribu. Ia menilai sebagian pandangan publik terlalu berlebihan dalam membaca kondisi ekonomi nasional.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026. Dalam sambutannya, Prabowo menyinggung adanya anggapan Indonesia berada dalam kondisi kritis, akibat tekanan ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar.

"Sekarang ada yang selalu entah apa, saya gak mengerti, sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa, ya kan rupiah begini, rupiah begini dolar begini," ujar Prabowo saat peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Sabtu.

3. Prabowo sebut rakyat desa tak pakai dolar

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Koperasi Merah Putih secara simbolis di Nganjuk, Sabtu (16/5/2026). (IDN Times/Muhammad Ilman Nafian)

Prabowo kemudian menegaskan, kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam keadaan stabil, terutama jika dilihat dari aktivitas masyarakat di tingkat akar rumput. Menurutnya, masyarakat di pedesaan tidak bergantung pada dolar Amerika Serikat dalam kehidupan sehari-hari.

"Orang, rakyat di desa gak pakai dolar kok, ya kan pangan aman energi aman ya, banyak negara panik, Indonesia masih oke," ucap Prabowo.

Editorial Team