Mahasiswa meluber hingga ke kubah Grahasabha Paripurna ketika menggelar unjuk rasa yang menuntut reformasi menyeluruh di Jakara, Selasa (19/5/1998). (ANTARA FOTO/Saptono)
Berdasarkan buku “Pengumpulan Sumber Sejarah Lisan: Gerakan Mahasiswa 1966 dan 1998” yang dikeluarkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tahun 2011, krisis moneter Asia yang melanda sejak 1997 membawa dampak besar bagi Indonesia. Kondisi tersebut memicu ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan Soeharto yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dekade.
Di tengah situasi tersebut, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mulai menggelar aksi demonstrasi dengan membawa tuntutan reformasi di bidang politik, ekonomi, dan hukum.
Gelombang demonstrasi semakin meluas pada awal 1998. Melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan berbagai organisasi kemahasiswaan, mahasiswa menuntut pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), pencabutan kebijakan yang dianggap membatasi demokrasi, serta reformasi terhadap sistem pemerintahan.
Aksi tidak hanya berlangsung di Jakarta, tetapi juga menyebar ke berbagai kota di Indonesia dan mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat.
Puncak gerakan terjadi pada 12 Mei 1998 dalam demonstrasi di Universitas Trisakti. Aksi ini berakhir ricuh setelah aparat melepaskan tembakan yang menewaskan empat mahasiswa, yaitu Elang Mulia Lesmana, Hafidhin Royan, Hery Hartanto, dan Hendriawan Sie.
Tragedi Trisakti memicu gelombang demonstrasi yang lebih besar, disertai kerusuhan di sejumlah daerah dan semakin kuatnya desakan agar pemerintah melakukan reformasi.
Tekanan yang terus meningkat mendorong Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Jabatan presiden kemudian diserahkan kepada B. J. Habibie.