Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono saat menerima audiensi dari Mabes TNI membahas rencana program pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2026)/ Biro Humas Kemensos
Hendardi mengatakan, karakter peserta didik seharusnya dibangun melalui pendekatan pedagogis, humanistik, dan partisipatif yang bertumpu pada ilmu pendidikan, psikologi perkembangan, voluntarisme sosial, serta pemberdayaan masyarakat. Penugasan taruna Akmil untuk melatih peserta Sekolah Rakyat bukan sekadar persoalan teknis penyelenggaraan pendidikan. Kebijakan ini mencerminkan cara pandang negara yang semakin mengaburkan batas antara ranah sipil dan ranah militer.
"Alih-alih memperkuat institusi sipil dalam menjalankan fungsi pendidikan, pemerintah justru kembali menjadikan militer sebagai instrumen pembentukan karakter warga negara. Ini adalah preseden yang berbahaya. Seakan-akan pembentukan karakter warga negara hanya bisa dilakukan melulu oleh militer," ujar Hendardi dalam keterangannya, Selasa (30/6/2026).
Ia menegaskan, Sekolah Rakyat dirancang sebagai program afirmasi pendidikan bagi masyarakat yang menghadapi kerentanan sosial-ekonomi. Karena itu, pendekatan yang dibutuhkan adalah pendekatan berbasis ilmu pendidikan, psikologi perkembangan, pemberdayaan masyarakat, dan voluntarisme sosial.
"Disiplin memang merupakan nilai penting dalam pendidikan, tetapi disiplin tidak identik dengan militerisme. Nasionalisme dan patriotisme warga negara penting. Namun, keduanya bukan hanya milik militer. Negara seharusnya tidak mengaburkan cara pandang tersebut," katanya.