Jakarta, IDN Times - Tim advokasi untuk demokrasi (TAUD) yang mengawal secara dekat kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, mengungkap temuan mengejutkan. Mereka mengatakan upaya pembubuhan terhadap aktivis KontraS itu merupakan operasi intelijen besar yang melibatkan belasan individu. Hal ini berbeda dari pernyataan yang disampaikan oleh Mabes TNI bahwa pelaku penyiraman air keras berjumlah empat prajurit.
"Dugaan ini berdasarkan bukti permulaan. Hasilnya menunjukkan operasi ini dilakukan oleh belasan orang pelaku dan di antaranya terdapat keterlibatan pelaku sipil," ujar Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Fadhil Alfathan di dalam keterangan yang dikutip pada Sabtu (21/3/2026).
Fadhil dan tujuh individu lainnya menjadi kuasa hukum bagi kasus upaya pembunuhan terhadap Andrie. Ia mengatakan belasan individu tersebut, kata Fadhil, saling berkoordinasi sepanjang Kamis malam (12/3/2026) seperti yang terpantau di dalam kamera pengawas milik Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
"Empat orang pelaku yang disampaikan baik oleh pihak kepolisian maupun Puspom TNI sangat jauh di bawah temuan kami," tutur dia.
Oleh sebab itu, kata Fadhil, TAUD terus mendalami sejumlah bukti untuk memastikan akuntabilitas aparat penegak hukum.
