Profil BAIS, Mata dan Telinga Panglima TNI yang Bekerja Dalam Senyap

- Empat anggota BAIS TNI terlibat kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, memicu sorotan publik terhadap peran lembaga intelijen militer tersebut.
- BAIS TNI berfungsi sebagai pengumpul dan analis informasi strategis pertahanan di bawah Panglima TNI, dengan fokus pada ancaman luar negeri dan diplomasi militer global.
- Kontroversi muncul setelah beberapa anggota BAIS terlibat dalam kerusuhan 2025, menimbulkan kritik bahwa lembaga ini seharusnya fokus pada intelijen tempur, bukan pemantauan massa.
Jakarta, IDN Times - Terungkapnya pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, yakni oleh anggota TNI yang bertugas di Badan Intelijen Strategis (BAIS), menyebabkan sorotan publik langsung mengarah ke organisasi itu. Mayoritas mempertanyakan mengapa anggota TNI yang bertugas di BAIS justru terlibat dalam upaya pembunuhan terhadap warga sipil. Padahal tugas utama dari BAIS menjadi mata dan telinga bagi Panglima TNI terhadap ancaman pertahanan yang datang dari luar Indonesia.
"Keempat pelaku bertugas di Denma (Detasemen Markas) BAIS TNI," ujar Komandan Pusat Polisi Militer TNI, Mayjen Yusri Nuryanto, ketika memberikan keterangan pers di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/3/2026).
Di Indonesia, garda terdepan dalam pengumpulan, pengolahan, dan analisis informasi strategis kemiliteran berada di pundak BAIS TNI. Sebagai institusi telik sandi yang bekerja di dalam senyap, BAIS merupakan komponen vital bagi Panglima TNI sebelum mengambil keputusan yang strategis.
Berikut profil BAIS TNI.
1. BAIS fokus pada aspek pertahanan negara

Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI adalah organisasi khusus yang menangani intelijen kemiliteran dan berada langsung di bawah komando Mabes Tentara Nasional Indonesia. BAIS berbeda dengan lembaga intelijen lainnya, karena fokus utamanya pada aspek pertahanan negara, baik dari ancaman luar negeri maupun stabilitas internal yang berdampak pada kedaulatan militer.
BAIS secara struktural dipimpin oleh perwira tinggi bintang tiga atau letnan jenderal (letjen) di matra TNI Angkatan Darat (AD). Sedangkan dari matra TNI AU, perwira tinggi itu berpangkat Marsekal Madya. Bila perwira tinggi itu berasal dari matra Angkatan Laut, pangkatnya Laksamana Madya.
Saat ini Kepala BAIS (Kabais) dijabat oleh Letjen Yudi Abdimantyo. Ia bertanggung jawab langsung kepada Panglima TNI.
Peran BAIS semakin krusial pada 2026 seiring pergeseran pola konflik global yang kini lebih banyak melibatkan perang asimetris dan siber.
2. Perwira BAIS dikirim ke kedutaan Indonesia di seluruh dunia

Hal lain yang menarik dari BAIS yakni para perwiranya dikirim ke berbagai kedutaan besar Indonesia di seluruh dunia untuk menjalankan fungsi diplomasi militer, dan menjadi sensor terdepan dalam memantau perkembangan militer global. Para perwira ini menjabat sebagai Atase Pertahanan dan berada di bawah direktorat khusus.
Lembaga telik sandi ini seringkali dianggap tumpang tindih dengan badan serupa dari institusi lain seperti Badan Intelijen Negara (BIN). Padahal, ada garis pemisah yang jelas di antara badan-badan tersebut.
BIN merupakan koordinator intelijen nasional yang melapor langsung kepada Presiden. Mereka fokus pada intelijen strategis nasional secara makro.
Sementara, Bais TNI fokus pada intelijen militer, kekuatan alutsista lawan, dan pertahanan kedaulatan untuk kebutuhan TNI. Lain lagi dengan Badan Intel dan Keamanan Polri. Mereka fokus pada intelijen keamanan dalam negeri, ketertiban masyarakat, dan deteksi dini kriminalitas.
3. Anggota BAIS sempat tertangkap polisi pada tragedi kerusuhan Agustus 2025

Selain terlibat dalam aksi penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, anggota Bais juga ikut terseret dalam aksi demonstrasi besar pada Agustus 2025 lalu, yang berujung kericuhan. Seorang anggota BAIS ditangkap personel kepolisian pada 29 Agustus 2025 ketika berada di dekat pom bensin di area Pejompongan, Jakarta Pusat.
Identitas anggota BAIS yang sempat diamankan oleh personel Brimob itu diketahui merupakan Mayor SS. Kartu identitas Mayor SS lengkap dengan fotonya terpampang di media sosial. Mayor SS kemudian dipersepsikan menjadi provokator dalam aksi demo yang meluas hingga ke daerah Pejompongan.
Mabes TNI pada 2025 lalu akhirnya mengakui Mayor SS merupakan anggota BAIS. Ia merupakan komandan tim 2 Dev IV.
Tetapi, Mabes TNI membantah dengan tegas Mayor SS merupakan provokator agar aksi demo semakin sulit diredam. Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI ketika itu, Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah menyebut, Mayor SS berada di sana untuk melakukan deteksi dan cegah dini terhadap berbagai upaya serta ancaman.
"Oleh karena itu, di mana pun sekiranya ada situasi mengancam, pasti ada rekan-rekan kami yang bertugas di situ. Mereka melakukan tugas negara," ujar Freddy ketika itu di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Pusat.
Publik pun mempertanyakan untuk apa anggota BAIS TNI berada di tengah-tengah area yang penuh kerumunan massa. Tetapi, Freddy kembali menggarisbawahi bahwa Mayor SS berada di sana karena sesuai penugasannya.
"Jadi, itu tidak benar, kalau anggota kami ditangkap oleh Polri dan kedua, menjadi provokator!" tutur Jenderal bintang dua itu.
4. BAIS harusnya fokus pada fungsi intelijen tempur bukan intelijen massa

Salah satu yang mengkritik keberadaan anggota BAIS di tengah-tengah kerumunan demo Agustus 2025 adalah Ketua Badan Pengurus Centra Initiative, Al Araf. Menurut Al Araf, tugas utama BAIS fokus pada kepentingan militer sebagai alat pertahanan negara.
"Sehingga kehadiran dia dalam negara ini untuk menghadapi kemungkinan deteksi dini ancaman perang dari negara lain, bukan terlibat dan ada di dalam massa aksi," ujar Al dalam dialog Imparsial yang digelar pada September 2025 lalu.
Al Araf menilai, meski tidak terlibat dalam agenda provokasi, keberadaan anggota intelijen di tengah massa aksi adalah salah dan keliru. "Sebagai bagian dari intelijen strategis, seharusnya tugas dia fungsinya untuk intelijen tempur bukan intelijen yang memantau dinamika massa," tutur dia.


















