Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Terdampak Geopolitik Timur Tengah, TNI AU Siasati Penghematan Avtur
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI M Tonny Harjono ketika memimpin HUT ke-80 TNI Angkatan Udara (AU). (Dokumentasi TNI AU)
  • TNI AU melakukan efisiensi avtur dengan menggabungkan beberapa latihan dan patroli udara agar jam terbang tetap optimal tanpa menurunkan profesionalisme prajurit.
  • Peringatan HUT ke-80 TNI AU digelar sederhana sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan penghematan pemerintah, dengan upacara serentak di seluruh pangkalan secara daring.
  • TNI AU menargetkan memiliki 30 satuan radar pada 2029 untuk menutup wilayah blind spot, sekaligus memperbarui radar lama demi memperkuat pemantauan udara nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Situasi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah turut berpengaruh terhadap operasional TNI Angkatan Udara (AU). Para penjaga langit dirgantara itu harus menghemat bahan bakar avtur untuk semua alutsista udara yang mereka miliki.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI M Tonny Harjono mengatakan pihaknya menyiasati penggunaan BBM dengan menggabungkan sejumlah kegiatan. Sebagai contoh patroli udara dilakukan bersamaan dengan latihan. TNI AU juga mengoptimalkan jam terbang para penerbang.

"Misalnya dalam satu sesi exercise, kami bisa sekali terbang melaksanakan dua hingga tiga exercise sekaligus. Sambil latihan formasi atau latihan penembakan tetapi juga digabung dengan low level untuk proficiency," ujar Tonny di Mabes TNI Angkatan Udara (AU), Cilangkap, Jakarta Timur pada Kamis (9/4/2026).

TNI AU, kata Tonny, adaptif terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Ia berusaha menyesuaikan dengan situasi global tanpa harus menurunkan kualitas dan profesionalisme.

"Jadi, yang kami fokuskan saat ini memang benar jam terbang tidak kami kurangi, sama sekali tidak. Hanya saja pemanfaatan fuel yang kami kurangi dan beberapa metode latihan yang kami jadikan satu. Semula, exercise-nya kan sendiri-sendiri. Sekarang, kami jadikan satu sortie untuk beberapa exercise," tutur perwira tinggi TNI AU itu.

1. HUT ke-80 diperingati dengan cara sederhana

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI M. Tonny Harjono ketika memimpin HUT ke-80 TNI Angkatan Udara (AU). (Dokumentasi TNI AU)

Cara lain yang ditunjukkan TNI AU yakni menggelar HUT ke-80 secara sederhana di Lapangan Mabes TNI AU, Cilangkap. Tidak ada atraksi jet tempur milik AU yang biasanya melintas di udara saat peringatan HUT. Sejumlah kendaraan taktis P6 ATAV menjadi satu-satunya yang dipamerkan di beberapa titik di sekitar lapangan.

Tonny mengatakan hal itu tidak terlepas dari kebijakan efisiensi yang dilakukan pemerintah.

"Kami sangat memahami situasi global, sehingga upacara peringatan ulang tahun Angkatan Udara kami laksanakan secara sederhana," kata Tonny.

Meski begitu, upacara digelar serentak di seluruh pangkalan TNI AU di Indonesia. Sambutan KSAU dari Mabes AU juga disiarkan secara daring dan diikuti oleh seluruh satuan di daerah.

"Ini adalah komitmen Angkatan Udara untuk mengikuti program pemerintah dalam hal efisiensi dan penghematan, tetapi esensinya adalah kami ingin lebih ke arah pengabdian Angkatan Udara yang tanpa batas," tutur dia.

2. TNI AU masih tunggu keputusan dari Kemhan soal penambahan alutsista baru

Unit kedua pesawat Airbus A400M yang dipesan oleh Kementerian Pertahanan (x.com/AirbusDefence)

Sementara, ketika ditanyakan soal penambahan alutsista baru Airbus A400M, TNI AU memilih menunggu keputusan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto pada November 2025 menyebut Indonesia akan kembali menambah empat unit pesawat angkut Airbus A400M.

"Jadi pengembangan A400M, kami menunggu dari Kemhan sesuai dengan tupoksi (tugas, pokok, dan fungsi)," katanya.

Tonny mengucapkan terima kasih kepada Prabowo karena telah memberikan perhatian begitu besar kepada TNI AU dalam memodernisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam).

3. TNI AU targetkan punya 30 satuan radar hingga 2029

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI M. Tonny Harjono ketika memimpin HUT ke-80 TNI Angkatan Udara (AU). (Dokumentasi TNI AU)

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal M Tonny Harjono juga menyebut pihaknya menargetkan memiliki 30 satuan radar (satrad) pada 2029 guna menutup wilayah yang belum terpantau atau blind spot. Saat ini sudah ada 20 satuan radar.

"Ini berproses, InsyaAllah pada tahun 2029, semua sudah ter-install sesuai rencana. Semua ada nantinya akan ada 30 satrad, sekarang 20 satrad," ujar Tonny.

Untuk mencapai target itu, TNI AU akan mendapatkan sekitar 25 radar baru untuk memperkuat sistem pemantauan udara nasional. Ia menyebutkan, penambahan ini juga dilakukan karena sebagian radar yang ada saat ini sudah berusia tua, meski masih berfungsi dengan baik.

"Bahwa radar yang kami miliki saat ini ada 20 satrad yang sudah usang, tetapi masih berfungsi dengan baik,” ungkap dia.

Menurut Tonny, keterbatasan jumlah dan jangkauan radar saat ini menyebabkan masih adanya sejumlah wilayah yang belum terjangkau pemantauan. "Untuk ke depannya, kami menempatkan radar-radar baru itu di tempat yang saat ini menjadi blind spot,” imbuhnya.

Editorial Team