Teuku Nyak Arief semasa hidupnya (Foto: teropongaceh.com)
Menjelang masuknya Jepang dan berakhirnya kedudukan Pemerintah Hindia Belanda di Aceh pada 1942, Teuku Nyak Arief memberanikan diri dengan menawarkan dirinya sebagai residen baru. Hal itu ia sampaikan pada 8 Maret 1942 , ketika ia dan Tuanku Mahmud diundang dalam pertemuan politik oleh residen Aceh yang kala itu dijabat J Pauw.
Permintaan itu ternyata tidak diindahkan oleh J Pauw, sehingga Teuku Nyak Arief memutuskan untuk melakukan perlawanan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Bahkan untuk meredam dan mematahkan perlawanan, pihak kolonial kembali mengundang pemimpin-pemimpin Aceh saat itu pada pertemuan selanjutnya.
Pertemuan yang digelar pada 10-11 Maret 1942 itu merupakan jebakan. Hanya Teuku Nyak Arief yang tidak hadir memenuhi undangan tersebut, sedangkan delapan dari sembilan pemimpin yang diundang,seperti Cut Hasan Mauraxa, Hanafiah, Raja Abdullah, dan lainnya, kabarnya ditangkap oleh Belanda.
Pengejaran terhadap alumni OSVIA di Serang, Banten itu pun terus dilakukan Pemerintah Hindia Belanda. Pasukan marsose dikerahkan untuk menyerang tempat kediaman panglima Sagi XXVI Mukim tersebut. Bahkan, rumah yang terletak di kawasan Lamnyong (kini bagian Kecamatan Syiah Kuala) itu dua kali berutut-turut diserang dengan kekerasan. Meskipun demikian, usaha itu tidak membuat Teuku Nyak Arief ciut dan menyerahkan diri.
Kedudukan Pemerintah Hindia Belanda berakhir seiring Jepang masuk ke Aceh. Masa kedudukan Negeri Matahari Terbit ini, Teuku Nyak Arief coba bekerja sama dan ia dipercaya sebagai penasehat pemerintahan militer. Walaupun demikian, ia tidak sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada Jepang. Sebab baginya, Belanda dan Jepang sama-sama busuk.