Ilustrasi permukiman di Arab pada masa lampau (Nano Banana 2/Rochmanudin)
Al-Qur’an juga merekam bagaimana mereka saling berbisik dan menuduh Nabi sebagai orang yang terkena sihir. Allah berfirman:
نَّحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَسْتَمِعُونَ بِهِۦٓ إِذْ يَسْتَمِعُونَ إِلَيْكَ وَإِذْ هُمْ نَجْوَىٰٓ إِذْ يَقُولُ ٱلظَّٰلِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَّسْحُورًا
(QS. Al-Isra: 47)
“Dan Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan ketika mereka mendengarkan kamu, dan ketika mereka berbisik-bisik, yaitu ketika orang-orang zalim itu berkata: ‘Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang terkena sihir.’”
Tak hanya itu, mereka juga meragukan kebangkitan setelah kematian:
وَقَالُوا۟ أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمًا وَرُفَٰتًا أَءِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا
(QS. Al-Isra: 49)
Dan Allah menjawab melalui firman-Nya:
قُلْ كُونُوا۟ حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا
أَوْ خَلْقًا مِّمَّا يَكْبُرُ فِى صُدُورِكُمْ ۚ فَسَيَقُولُونَ مَن يُعِيدُنَا ۖ قُلِ ٱلَّذِى فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ
(QS. Al-Isra: 50–51)
“Katakanlah: Jadilah kamu batu atau besi, atau makhluk apa pun yang menurut pikiranmu sulit (untuk dihidupkan kembali). Maka mereka akan bertanya: Siapa yang akan menghidupkan kami kembali? Katakanlah: Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama.”
Kisah ini menegaskan satu hal: penolakan kaum Quraisy bukan karena mereka tak pernah mendengar kebenaran. Mereka mendengar. Mereka memahami sebagian. Bahkan hati mereka tergetar. Namun kesombongan, gengsi, dan kepentingan dunia membuat mereka berpaling.
Di situlah letak pelajaran besarnya. Al-Qur’an mampu menyentuh siapa saja, tetapi hidayah hanya akan menetap pada hati yang bersedia merendah dan menerima kebenaran.