Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Timwas DPR Ungkap Ada Kendala Distribusi Obat Jemaah Haji di Makkah
Jemaah haji embarkasi JKB 19 tiba di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Minggu (17/05/2026) pagi waktu Arab Saudi. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
  • Timwas Haji DPR RI menemukan kendala distribusi obat di sejumlah satelit kesehatan jemaah Indonesia di Makkah akibat pengelolaan logistik yang belum optimal di bawah Kementerian Kesehatan.
  • Temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan haji berikutnya, dengan rencana peralihan pengelolaan kesehatan ke Kementerian Haji agar sistem distribusi dan tenaga medis lebih terintegrasi.
  • DPR RI menegaskan penguatan layanan kesehatan jemaah sebagai fokus utama pengawasan, demi memastikan pelayanan cepat dan merata bagi jamaah lanjut usia serta penderita penyakit penyerta.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
21 Mei 2026

Ketua Timwas Haji DPR RI 2026, Cucun Ahmad Syamsurijal, meninjau pelayanan kesehatan jemaah di Snood Mawteen Hotel Sektor 8, Makkah. Dalam kunjungan itu ditemukan kendala distribusi obat di sejumlah satelit kesehatan.

tahun depan

Temuan kendala distribusi obat dijadikan bahan evaluasi untuk penyelenggaraan ibadah haji tahun depan. Pengelolaan kesehatan haji direncanakan berpindah ke Kementerian Haji agar sistem distribusi dan tenaga medis lebih terintegrasi.

kini

Cucun menyatakan penguatan layanan kesehatan menjadi fokus utama pengawasan DPR RI pada penyelenggaraan haji mendatang. Kesadaran jemaah menjaga kesehatan juga meningkat dengan dukungan tenaga medis yang siaga 24 jam.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Tim Pengawas Haji DPR RI menemukan adanya kendala distribusi obat bagi jemaah haji Indonesia di sejumlah satelit kesehatan di Makkah, yang berdampak pada keterlambatan penyaluran kebutuhan medis.
  • Who?
    Ketua Timwas Haji DPR RI 2026, Cucun Ahmad Syamsurijal, bersama anggota tim pengawas dan tenaga kesehatan yang bertugas di sektor pemondokan jemaah haji Indonesia.
  • Where?
    Kendala ditemukan saat peninjauan di Snood Mawteen Hotel Sektor 8, Makkah, Arab Saudi, tempat pemondokan sekitar 2.099 jemaah asal berbagai daerah Indonesia.
  • When?
    Kunjungan dan temuan tersebut terjadi pada Kamis, 21 Mei 2026, menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji tahun itu.
  • Why?
    Kendala muncul karena pengelolaan logistik kesehatan masih berada di bawah Kementerian Kesehatan sehingga distribusi obat ke setiap sektor belum berjalan optimal.
  • How?
    Distribusi obat terhambat akibat stok terbatas dari dokter kloter daerah dan sistem penyaluran yang belum terintegrasi penuh; kondisi ini akan dijadikan bahan evaluasi untuk perbaikan tahun berikutnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang-orang dari DPR datang ke Makkah lihat para jamaah haji dari Indonesia. Mereka bilang ada susah kirim obat ke tempat-tempat kesehatan kecil di hotel. Dokternya juga cuma bawa obat sedikit buat kelompoknya. Sekarang mereka mau perbaiki supaya tahun depan obatnya bisa sampai cepat dan semua jamaah bisa sehat terus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun Timwas DPR menemukan kendala dalam distribusi obat, artikel ini menunjukkan adanya kemajuan nyata dalam layanan kesehatan jemaah haji. Pembukaan satelit kesehatan di setiap pemondokan, kerja sama dengan rumah sakit swasta di Arab Saudi, serta meningkatnya kesadaran jemaah untuk memeriksa kondisi fisik mencerminkan komitmen kuat terhadap keselamatan dan kenyamanan ibadah haji tahun ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — Ketua Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026, Cucun Ahmad Syamsurijal, menyoroti persoalan distribusi obat sekaligus pentingnya penguatan layanan kesehatan jemaah haji Indonesia saat melakukan peninjauan di Snood Mawteen Hotel Sektor 8, Makkah, Arab Saudi, Kamis (21/5/2026).

Hotel tersebut ditempati sekitar 2.099 jemaah asal Cirebon, Bekasi, Tasikmalaya, Palembang, Bandung, dan Magelang. Dalam kunjungan itu, Timwas Haji DPR RI meninjau langsung pelayanan kesehatan di sektor pemondokan jemaah yang menjadi salah satu titik krusial menjelang puncak ibadah haji.

Cucun mengatakan, di tengah ketatnya regulasi Pemerintah Arab Saudi terkait layanan kesehatan haji, Indonesia masih dapat membuka satelit kesehatan di setiap pemondokan jemaah. Dalam satu sektor, terdapat hingga empat satelit kesehatan yang berfungsi sebagai fasilitas penanganan awal sebelum jemaah dirujuk ke Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Aziziyah.

“Alhamdulillah tahun ini kita masih bisa membuka satelit-satelit kesehatan di setiap pemondokan. Ini menjadi penanganan awal kegawatdaruratan sebelum jemaah dibawa ke KKHI,” ujar Cucun dalam keterangannya.

1. Ada kendala distribusi obat

Pelepasan jemaahbhaji NTB kloter terakhir atau kloter 15 di Asrama Haji NTB Embarkasi Lombok pada Minggu malam (10/5/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)

Dia mengatakan, layanan kesehatan haji tahun ini juga diperkuat melalui kerja sama dengan sejumlah rumah sakit swasta di Arab Saudi, termasuk Saudi German Hospital serta beberapa rumah sakit lain di wilayah Makkah dan Madinah.

Menurut dia, pola layanan tersebut membantu mempercepat penanganan jemaah yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan seperti laboratorium maupun rontgen.

Meski demikian, Timwas Haji DPR menemukan adanya kendala distribusi obat di sejumlah satelit kesehatan. Persoalan itu dinilai muncul lantaran pengelolaan Pusat Kesehatan Haji saat ini masih berada di bawah Kementerian Kesehatan sehingga proses distribusi logistik kesehatan belum sepenuhnya optimal.

“Masih ada sedikit kendala terkait ketersediaan obat dan distribusinya ke setiap sektor maupun satelit kesehatan,” ujar dia.

Apalagi, kata Cucun, sebagian tenaga medis yang bertugas di satelit kesehatan berasal dari dokter kloter daerah yang hanya membawa persediaan obat terbatas untuk kebutuhan kelompok terbang masing-masing. Akibatnya, kebutuhan obat tambahan di sektor tertentu kerap mengalami keterlambatan distribusi.

“Dokter-dokter kloter ini kan melekat dengan jemaah dari daerahnya. Mereka tidak membawa stok obat dalam jumlah besar, hanya untuk kebutuhan kloternya,” ujar dia.

2. Jadi bahan evaluasi

Seorang petugas kesehatan menangani jemaah haji yang sedang dirawat di ruang perawatan KKHI Madinah (Dok. MCH 2026)

Temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi penting bagi penyelenggaraan ibadah haji tahun depan, terutama setelah pengelolaan kesehatan haji direncanakan berpindah ke Kementerian Haji. Oleh sebab itu, pihaknya mendorong agar sistem distribusi obat dan penataan tenaga kesehatan dapat lebih terintegrasi sehingga pelayanan kesehatan jamaah menjadi lebih maksimal.

Cucun pun mengapresiasi meningkatnya kesadaran jemaah terhadap pentingnya menjaga kesehatan selama berada di Tanah Suci. Dia mengatakan, jemaah kini lebih rutin memeriksakan tekanan darah dan kondisi fisik di satelit kesehatan sektor.

“Jemaah yang terindikasi berisiko tinggi sekarang mulai menurun. Kesadaran untuk memeriksa kesehatan setiap hari juga semakin baik,” kata dia.

Menurut Cucun, kondisi tersebut tidak lepas dari peran tenaga kesehatan yang siaga selama 24 jam mendampingi jamaah di pemondokan. Tim medis sektor, kata dia, dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah kondisi kesehatan jemaah memburuk, khususnya menjelang fase Armuzna yang identik dengan kepadatan aktivitas dan cuaca ekstrem.

3. Penguatan layanan kesehatan akan menjadi fokus utama pengawasan DPR RI

Jemaah haji mulai lempar jumrah Aqabah usai bermalam di Muzdalifah, Jumat (6/6/2025). (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)

Cucun mengatakan, penguatan layanan kesehatan akan menjadi fokus utama pengawasan DPR RI pada penyelenggaraan ibadah haji mendatang.

Sebab pelayanan kesehatan yang cepat dan merata dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keselamatan jamaah, terutama lanjut usia dan jamaah dengan penyakit penyerta.

Editorial Team