Bakal calon Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ilham Akbar Habibie, saat menjadi pembicara seminar di Unhas Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (2/9/2024). IDN Times/Jian Parawansyah/bt
Najwa kemudian kembali bertanya soal waktu yang lama ia tempuh demi menciptakan pesawat kebanggan Indonesia saat itu. Pada akhirnya percuma dan proyeknya pun tak lagi berlanjut.
“Anda mengalah pada cita-cita besar dan visi besar, padahal banyak wakti yang anda curahkan untuk cita-cita besar ini pak Habibie. Waktu yang harusnya bisa untuk anak-anak, mas Ilham juga Ibu Ainun. Tapi anda rela menghabiskan waktu yang akhirnya menjadi sia-sia,” kata Najwa.
“Bagi saya tidak sia-sia, karena pesawat terbang itu tanggal 10 Agustus 1995, mengenang 50 tahun Indonesia merdeka kita membuktikan kepada diri kita sendiri bahwa kita sama dengan bangsa Jerman dan yang lain bisa juga membuat pesawat terbang komersil,” jawab Habibie kembali disambut riuh tepuk tangan.
Momen wawancara ini viral di media sosial siring dengan nilai tukar rupiah yang tembus Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, kondisi ini disikapi santai oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ia menyebut anjloknya nilai tukar rupiah tidak berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat di pedesaan yang lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan pokok.
Hal itu disampaikan Prabowo di sela-sela peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026. Mulanya dia menyinggung pihak yang kerap menyebut kondisi ekonomi Indonesia berada dalam bahaya, karena rupiah terus melemah.
"Jadi, saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya enggak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa, ya kan?," kata Prabowo.
Prabowo meminta agar publik tidak terlalu mengkhawatirkan pergerakan rupiah terhadap dolar yang sering menjadi sorotan. Menurutnya, masyarakat di daerah pedesaan tidak menggunakan mata uang asing tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua umum Partai Gerindra itu menegaskan kondisi ketahanan ekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik bahkan relatif stabil, terutama pada sektor pangan dan energi di tengah kepanikan global.
"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke," ujarnya.