Rupiah Anjlok, Ini Ancaman Dampak Langsung yang Membayangi Kita

Pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS memicu kenaikan biaya impor, membuat harga barang konsumsi dan kebutuhan pokok meningkat di berbagai sektor.
Dampak kenaikan harga diperkirakan terasa dalam dua-tiga bulan ke depan, terutama pada produk berbahan impor seperti plastik kemasan, obat-obatan, makanan, dan elektronik.
Kenaikan biaya produksi mendorong pengusaha melakukan efisiensi seperti shrinkflation, sementara risiko PHK meningkat akibat turunnya daya beli dan melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional.
Jakarta, IDN Times - Tren pelemahan rupiah yang terus merayap sepanjang tahun ini menyentuh titik yang meresahkan. Nilai tukar rupiah bahkan tembus Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Lebih dari itu, pelemahan rupiah bukan hanya persoalan angka di layar kurs. Tak sekadar menjadi isu di pasar keuangan atau perbincangan pelaku bisnis, anjloknya rupiah akan terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Banyak dari kita yang belum menyadari bahwa fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi harga makanan, elektronik, tarif transportasi, atau bahkan dalam jangka panjang pada biaya pendidikan dan kesehatan.
Ekonom Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty menilai pelemahan rupiah berpotensi memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan menekan daya beli masyarakat. Menurutnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyebut dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah ini bisa menyeluruh ke semua lapisan masyarakat mulai dari pengusaha hingga penjual gorengan dalam dua-tiga bulan ke depan.
Apa saja dampak yang perlu kita antisipasi? Simak ulasannya!
Table of Content
1. Harga barang konsumsi naik akibat biaya produksi naik karena faktor impor

Nailul Huda menggarisbawahi dampak anjloknya rupiah akan terasa di kantong masyarakat, terutama karena kenaikan harga barang-barang yang terkait impor. "Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi. Ketika rupiah melemah, biaya impor naik," ujar Huda kepada IDN Times, Rabu (14/5/2026).
Sebelumnya, hal pertama yang sudah terasa oleh masyarakat adalah kenaikan harga plastik kemasan sejak konflik Timur Tengah. "Yang sudah mulai adalah plastik karena barangnya langka, distribusi mahal, sekalinya dapat, nilai rupiahnya melemah. Akan semakin mahal harga plastik kemasan ke depan," tutur Huda.
Terlepas dari persoalan plastik kemasan, masih ada pengaruh dampak pelemahan rupiah terhadap barang impor. Sementara bahan baku dan mesin yang sebagian besar masih impor, membuat biaya produksi perusahaan naik.
Telisa Aulia Falianty, menyebut sekitar 70-80 persen komponen industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada impor. "Maka ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis naik," ujarnya.
Kenaikan biaya produksi pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen melalui penyesuaian harga barang di pasaran. Otomatis, harga barang akan naik.
2. Kenaikan harga dalam dua-tiga bulan ke depan

Telisa menilai dampak pelemahan rupiah terhadap masyarakat berpenghasilan rendah sering kali tidak langsung terlihat, tetapi akan sangat terasa dalam beberapa bulan berikutnya. Sementara, industri masih bisa menahan kenaikan biaya melalui kontrak lama selama dua hingga tiga bulan. Namun setelah kontrak baru disesuaikan dengan kurs terkini, lonjakan biaya akan diteruskan ke harga barang konsumsi.
"Kenaikan harga mulai terlihat di berbagai sektor. Plastik kemasan mengalami kenaikan karena bahan bakunya berbasis minyak impor. Obat-obatan naik karena komponennya masih banyak yang impor," tutur Telisa.
Senada dengan itu, Huda menyebut harga minyak goreng, makanan minuman berkemasan, baju, dan elektronik, berpotensi naik dalam dua-tiga bulan ke depan.
3. Kemasan produk bisa jadi mini

Dampak lanjutan dari kenaikan biaya produksi adalah pengusaha yang terancam merugi. Oleh karena itu, para pengusaha akan putar otak menerapkan berbagai strategi efisiensi. Misalnya, sebungkus snack yang biasanya 100 gram bisa dipangkas menjadi 90 gram dengan harga sama, agar konsumen tidak terlalu terasa kenaikannya.
"Ada kemungkinan mereka melakukan shrinkflation, yaitu mengecilkan ukuran produk agar harga tetap kompetitif," tutur Huda.
3. Harga minyak dan energi naik

Harga minyak pun akan terpengaruh melemahnya nilai tukar rupiah. Jika harga minyak dunia stabil di 80 dolar AS per barel saja, harga beli kita tetap naik jika rupiah anjlok.
"Misal rupiah melemah dari Rp15.000 ke Rp16.000 per dolar AS, artinya, biaya dalam rupiah naik dari Rp1.200.000 menjadi Rp1.280.000 per barel," kata Huda.
Di sisi lain, minyak goreng dalam kemasan sudah mulai meningkat harganya karena faktor plastik juga. Harga plastik kemasan yang semakin mahal membuat makanan dan minuman berkemasan ikut naik. Minyak goreng kemasan sudah mulai naik harganya, dan pedagang kecil seperti penjual gorengan harus menyesuaikan harga jual agar tetap untung.
Telisa menyoroti sejumlah harga energi yang sudah naik "BBM nonsubsidi sudah naik, avtur naik tiket pesawat ikut naik dan harga LPG sudah naik," tegasnya.
4. Ancaman PHK

Ketika permintaan barang terus menurun akibat harga barang naik, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) akan semakin tinggi. Sebab, pengusaha akan semakin merugi dan PHK bisa menjadi pilihan dalam strategi efisiensi yang mereka jalankan.
Huda menambahkan, kondisi ini juga dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. “Ekonomi akan melambat, dan rupiah akan sulit membaik. Saya khawatir kondisi ini akan memburuk dalam dua-tiga bulan ke depan jika tidak ada langkah stabilisasi yang kuat,” kata dia.
5. Sektor-sektor yang terdampak

Sejauh ini, sektor industri yang masih mencatat pertumbuhan terutama berasal dari sektor akomodasi, makanan-minuman, sektor terkait program pemerintah, serta kelompok masyarakat kelas atas yang diuntungkan harga komoditas.
Sementara itu, sektor elektronik, furnitur, toko suvenir, hingga hotel di daerah mengalami perlambatan, terutama setelah efisiensi anggaran pemerintah mengurangi mobilitas aparatur sipil negara.
Fenomena tersebut terlihat dari kontras kondisi pusat perbelanjaan. Mal kelas atas tetap ramai, sementara mal kelas bawah mengalami penurunan pengunjung signifikan.
“Ini bukan kontradiksi, melainkan fenomena K-shaped economy. Kelompok atas naik, kelompok bawah turun, dan kelas menengah terjepit,” ujar Telisa.

















