Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Akhmad Wiyagus (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Akhmad Wiyagus (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Intinya sih...

  • Wiyagus memaparkan data produksi sampah nasional terus menanjak secara signifikan setiap tahunnya. Lonjakan ini belum diimbangi dengan kapasitas pengelolaan yang memadai di tingkat daerah.

  • Wiyagus mendorong penerapan konsep aglomerasi persampahan yang dinilai strategis. Pemerintah juga terus menggenjot implementasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau metode waste to energy.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Akhmad Wiyagus, menyoroti masalah sampah yang kian pelik seiring meningkatnya populasi penduduk di berbagai wilayah. Dia mendesak pemerintah daerah (pemda) untuk segera memperkuat kolaborasi guna mengatasi tantangan pembangunan tersebut.

Hal ini disampaikan Wiyagus saat membuka Forum Diskusi Aktual mengenai tata kelola sampah di Jakarta, Selasa (13/1/2026). Menurut dia, keterbatasan infrastruktur dan sumber daya di daerah membuat penanganan sampah saat ini harus melakukan pendekatan kolaborasi.

"Data menunjukkan bahwa produksi sampah nasional ini terus meningkat, sementara kapasitas pengelolaan di tingkat daerah masih menghadapi berbagai keterbatasan. Ini baik dari sisi SDM, kemudian infrastruktur, teknologi pendukung, dan lain sebagainya," kata Wiyagus dalam keterangan resminya.

1. Produksi sampah naik, kapasitas daerah terbatas

Truk pembawa sampah plastik di TPA Jatibarang, Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Wiyagus memaparkan data produksi sampah nasional terus menanjak secara signifikan setiap tahunnya. Sayangnya, lonjakan ini belum diimbangi dengan kapasitas pengelolaan yang memadai di tingkat daerah, baik dari sisi SDM, teknologi, maupun infrastruktur.

Jika tidak ditangani secara profesional, kata dia, tumpukan sampah ini rentan memicu bencana lingkungan dan masalah kesehatan serius. Pencemaran air bersih hingga ancaman korban jiwa menjadi risiko nyata yang harus diwaspadai oleh setiap kepala daerah.

2. Konsep aglomerasi dan energi listrik jadi solusi

Ilustrasi sampah menumpuk di suatu gang Kota Denpasar. (IDN Times/Yuko Utami)

Untuk mengatasi hal itu, Wiyagus mendorong penerapan konsep aglomerasi persampahan yang dinilai strategis. Konsep ini menekankan pendekatan kolaboratif lintas daerah agar infrastruktur pengelolaan sampah bisa berjalan lebih terintegrasi dan efisien.

Pemerintah juga terus menggenjot implementasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau metode waste to energy. Langkah inovatif ini diharapkan menjadi solusi komprehensif yang tak hanya bersihkan lingkungan, tapi juga memberi dampak energi bagi masyarakat.

"Kemudian dalam konteks ini juga konsep aglomerasi persampahan menjadi sangat urgent dan sangat relevan, serta strategis untuk dikembangkan. Karena aglomerasi ini, khusus di bidang persampahan, merupakan pendekatan kolaboratif antardaerah dalam pengelolaan sampah," ujar Wiyagus.

3. Lampu hijau aturan untuk kerja sama antardaerah

Wakil Menteri Dalam Negeri Komjen Pol (Purn) Akhmad Wiyagus/Humas Pemprov Sulsel

Wamendagri mengapresiasi inisiatif pemda yang sudah mulai melakukan kerja sama konkret dalam mengelola sampah. Payung hukumnya pun sudah jelas, yakni lewat Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2020 yang membuka ruang luas untuk kolaborasi antardaerah.

Dengan adanya aturan ini, pemda memiliki fleksibilitas lebih untuk saling bahu-membahu menangani masalah sampah spesifik. Semangat otonomi daerah diharapkan menjadi pemicu lahirnya inovasi dan kerja sama yang lebih solid ke depannya.

"Sekali lagi, saya selaku Wamendagri memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh narasumber yang nanti akan memberikan pencerahan (mengenai persoalan sampah), di tengah kesibukan bapak/ibu sekalian, baik dari seluruh pemerintah pusat, kemudian pemerintah daerah, akademisi, komunitas masyarakat sipil," ucap Wiyagus.

Editorial Team