Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
2 Eks Menhan China Dihukum Mati imbas Kasus Korupsi
potret bendera China (pexels.com/Charlie Jin)
  • Dua mantan Menteri Pertahanan China, Wei Fenghe dan Li Shangfu, dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan dua tahun akibat kasus korupsi sebagai bagian dari kampanye antikorupsi Presiden Xi Jinping.
  • Sejak 2012, Xi Jinping gencar membersihkan jajaran pemerintah dan militer dari koruptor, termasuk memecat sejumlah jenderal tinggi yang terbukti menyalahgunakan kekuasaan di berbagai cabang militer.
  • Tingkat pemecatan pejabat militer meningkat tajam sejak 2025, mencerminkan keseriusan Xi memberantas korupsi meski langkah ini dinilai berpotensi mengganggu stabilitas dan kesiapan militer China.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dua eks Menteri Pertahanan China, Wei Fenghe dan Li Shangfu, divonis hukuman mati oleh pengadilan imbas kasus korupsi yang mereka lakukan. Kabar tersebut disampaikan oleh media China, Xinhua News, pada Kamis (7/5/2026) yang dikutip oleh Jerusalem Post, Jumat (8/5/2026).

Kendati begitu, pengadilan China menjelaskan bahwa Fenghe dan Shangfu telah mendapatkan opsi penangguhan hukuman selama dua tahun. Artinya, eksekusi mati keduanya akan ditunda selama dua tahun. 

Hukuman mati yang diberikan kepada Fenghe dan Shangfu ini merupakan upaya Presiden China, Xi Jinping, untuk membersihkan militernya dari tangan-tangan nakal. Sebab, ada banyak petinggi militer China, termasuk yang bertugas di Kementerian Pertahanan, dikabarkan terlibat skandal korupsi. 

1. Xi sudah bersih-bersih militer sejak 2012

potret Presiden China, Xi Jinping (commons.wikimedia.org/Presidential Executive Office of Russia)

Presiden Xi sendiri sudah mulai melakukan operasi besar-besaran untuk membersihkan pemerintahannya dari koruptor sejak dirinya menjabat pada 2012. Sejak saat itu, ia mulai memecat, menangkap, dan mengeksekusi mati para pejabatnya yang ketahuan melakukan korupsi. Pihak yang paling sering menjadi target adalah para pejabat tinggi di lingkungan militer.

Pada Februari lalu, misalnya, Xi memecat 19 pejabat tinggi negara yang menjabat di pemerintahannya. Dari jumlah tersebut, sembilan di antaranya merupakan pejabat Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Dari 9 pejabat militer yang dipecat, 5 di antaranya merupakan jenderal berpangkat tinggi. 

Kelima jenderal tersebut terdiri dari Komisaris Politik Pasukan Pendukung Informasi Li Wei, Komandan Angkatan Darat Darat Li Qiaoming, mantan Komandan Angkatan Laut Shen Jinlong, mantan Komisaris Politik Angkatan Laut Qin Shengxiang, dan mantan Komisaris Politik Angkatan Udara Yu Zhongfu. Mereka semua dipecat karena melakukan korupsi. 

2. Pemecatan petinggi militer di China meningkat tajam sejak 2025

ilustrasi pejabat militer China (pexels.com/Da Na)

Pemecatan petinggi militer yang dilakukan Xi di China meningkat tajam pada 2025. Menurut data dari lembaga Think Tank China Power, kala itu, ada sekitar 46 jenderal militer China yang dipecat oleh Xi. 

Para pengamat menilai, peningkatan ini menunjukkan bahwa Xi benar-benar serius melakukan pembersihan pejabat di lingkungan militer. Sebab, Xi benar-benar ingin membuat pemerintahannya bersih dari oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

Para pengamat menilai, pemecatan ini sebetulnya baik untuk membersihkan militer China dari praktik korupsi. Namun, di sisi lain, pemecatan yang terus berulang akan mengganggu stabilitas militer di China. Hal seperti ini tentu akan berpengaruh terhadap kesiapan dan kesigapan militer China untuk melindungi negara, baik dari ancaman internal maupun eksternal. 

3. Xi tetap memecat pejabat militernya yang korup

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri) dan Presiden China, Xi Jinping (kanan) (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Kendati demikian, Presiden Xi tidak peduli dengan semua itu. Sebab, ia bersikukuh akan membersihkan semua pejabat di negaranya, termasuk pejabat militer yang ketahuan melakukan korupsi. Keputusan Xi tersebut juga tidak ada yang bisa mengganggu gugat. Sebab, Xi merupakan pemimpin tertinggi di negara sekaligus di ranah militer. 

Namun, pengamat lain menilai sulit bagi Xi untuk memberantas korupsi di China dengan cara memecat dan menghukum mati pejabatnya. Sebab, meski hukuman tersebut sudah diberlakukan sejak lama, hingga kini, masih banyak kasus korupsi baru yang terjadi di Negeri Tirai Bambu. 

"Satu-satunya alasan kasus baru terus bermunculan adalah karena semakin Anda menggali, semakin dalam Anda menemukan (kasus korupsi baru),” kata Helena Legarda, seorang peneliti di Merics, seperti dilansir BBC

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team