Menlu Iran Temui China Jelang Pertemuan Xi Jinping dan Trump

- Menlu Iran Abbas Araghchi bertemu Wang Yi di Beijing membahas hubungan bilateral dan keamanan internasional, fokus pada stabilitas gencatan senjata serta pembukaan kembali akses Selat Hormuz.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengguncang pasar energi global karena menghambat 20 persen distribusi minyak dunia, sementara blokade AS memperburuk tekanan ekonomi dan risiko inflasi.
- Iran mencari dukungan diplomatik China jelang KTT Xi-Trump untuk menghadapi potensi sanksi baru AS, sekaligus mempertahankan kendali atas Selat Hormuz di tengah negosiasi yang belum tuntas.
Jakarta, IDN Times – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, menggelar pertemuan dengan diplomat senior China, Wang Yi, di Beijing pada Rabu (6/5/2026). Lawatan ini menjadi kunjungan pertama Araghchi ke China sejak pecahnya konflik Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026.
Pertemuan tersebut berlangsung menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026. Agenda utama pembahasan berkaitan dengan ketegangan di Selat Hormuz yang masih mengganggu jalur distribusi energi global.
1. China bahas gencatan senjata bersama Iran

Kantor berita Xinhua melaporkan diskusi kedua pihak membahas hubungan bilateral hingga persoalan keamanan internasional. Sebelum bertemu langsung di Beijing, Araghchi dan Yi juga sudah melakukan komunikasi melalui sambungan telepon sebanyak tiga kali sejak perang dimulai.
Jurnalis Al Jazeera, Katrina Yu, melaporkan dari Beijing bahwa pembahasan utama difokuskan pada upaya menjaga stabilitas gencatan senjata sekaligus membuka kembali akses Selat Hormuz. Dalam pembicaraan itu, China mengkritik blokade angkatan laut AS karena dinilai berisiko terhadap keamanan kawasan, sedangkan Iran masih mempertahankan penutupan jalur strategis tersebut.
Beijing juga berkepentingan mempercepat pemulihan jalur pengiriman komersial demi menjaga perdagangan serta pasokan energi menuju pasar Asia tetap berjalan normal.
2. Penutupan Hormuz guncang pasar energi dunia

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak konflik pecah memicu tekanan besar terhadap ekonomi global karena sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi wilayah itu. Kondisi tersebut ikut mendorong kenaikan harga bahan bakar dan pupuk di berbagai negara.
Situasi bertambah rumit setelah AS menerapkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran usai gencatan senjata April lalu. Langkah itu dilakukan Washington untuk memperkuat posisi tawar dalam perundingan damai dengan Teheran.
Amir Handjani dari Quincy Institute for Responsible Statecraft menilai China ingin jalur tanker minyak dari Teluk Persia kembali pulih.
“Mereka tak memiliki nafsu terhadap guncangan inflasi dan potensi resesi yang akan dipicu oleh blokade berkepanjangan di seluruh wilayah,” ujarnya, dikutip CNBC.
3. Iran cari dukungan China jelang KTT Trump-Xi

Bagi Iran, kunjungan Araghchi dipandang penting untuk membaca arah kebijakan China sebelum Xi bertemu Trump. Teheran juga berharap dukungan diplomatik Beijing tetap mengalir, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), guna menghadapi potensi sanksi baru dari AS.
Pada saat yang sama, Trump mengumumkan penghentian sementara operasi pengawalan militer kapal di Selat Hormuz melalui platform Truth Social atas permintaan Pakistan sebagai mediator.
Negosiasi sebelumnya di Islamabad masih belum menghasilkan kesepakatan karena AS meminta penghentian total pengayaan nuklir Iran. Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, sementara China mulai menerapkan aturan baru untuk melindungi kilang minyaknya dari dampak sanksi sepihak AS.
















