Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
2 Negara NATO Tolak Ajakan Trump untuk Blokade Selat Hormuz
potret logo NATO (unsplash.com/Marek Studzinski)
  • Inggris dan Prancis menolak ajakan Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz, menegaskan keinginan menjaga kebebasan pelayaran dan menghindari keterlibatan lebih jauh dalam konflik AS-Iran.
  • Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz setelah negosiasi damai dengan Iran gagal, sebagai tekanan agar Teheran menyetujui kesepakatan perdamaian dengan Amerika Serikat.
  • Militer AS akhirnya hanya memblokade seluruh pelabuhan milik Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman, membuat kapal dari berbagai negara tak bisa keluar-masuk wilayah tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dua negara NATO, yakni Inggris dan Prancis, menolak ajakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk memblokade Selat Hormuz. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin (13/4/2026), Inggris dan Prancis mengatakan tidak ingin terlibat lebih intens ke dalam konflik yang terjadi antara AS dan Iran. 

NATO ingin Selat Hormuz tetap terbuka agar kapal-kapal minyak dapat berlayar di sana dengan bebas. Jika selat diblokade atau ditutup, maka pelayaran kapal minyak dari dan ke selat tersebut akan terhambat sehingga harga minyak global bakal kembali naik seperti yang terjadi pada Maret 2026 lalu.

"Kami tidak mendukung blokade tersebut. Keputusan saya sudah sangat jelas bahwa apa pun tekanannya dan memang ada tekanan yang cukup besar, kami tidak akan terseret ke dalam perang," kata Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, kepada BBC, seperti dikutip Jerusalem Post.

1. Negara NATO lainnya siap membantu AS memblokade Selat Hormuz

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Menurut Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, sejumlah negara di organisasinya telah menyatakan siap membantu AS untuk memblokade Selat Hormuz. Asalkan, Iran berjanji tidak akan menyerang kapal-kapal yang datang ke selat tersebut. 

Namun, Inggris dan Prancis tetap bersikukuh tidak ingin memblokade Selat Hormuz. Bahkan, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengatakan pihaknya akan menggelar pertemuan dengan Inggris dan negara NATO lainnya untuk memastikan kebebasan berlayar di Selat Hormuz. 

“Untuk itu, semua isu inti harus ditangani melalui solusi yang berkelanjutan, baik terkait aktivitas nuklir dan balistik Iran, tindakan destabilisasi di kawasan tersebut, kebutuhan untuk memulihkan navigasi bebas dan tanpa hambatan melalui Selat Hormuz secepat mungkin, serta kebutuhan untuk memastikan bahwa Lebanon kembali ke jalur perdamaian dengan menghormati kedaulatan dan integritas wilayahnya,” kata Macron dalam sebuah unggahan di X.

2. Donald Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang diwawancara oleh media. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Sebelumnya, Trump pada Minggu (12/4/2026) mengatakan akan memblokade Selat Hormuz. Ancaman ini diberikan Trump agar Iran segera menyetujui kesepakatan perdamaian dengan AS. Sebab, negosiasi damai antara AS dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada pekan lalu gagal total.  

“Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses memblokade semua Kapal yang mencoba memasuki atau meninggalkan Selat Hormuz,” ujar Trump dilansir The Guardian.

3. Militer AS hanya memblokade semua pelabuhan milik Iran

ilustrasi pelabuhan (pexels.com/Wolfgang Weiser)

Namun, dalam praktiknya, militer AS justru hanya memblokade semua pelabuhan milik Iran, termasuk yang ada di Teluk Arab dan Teluk Oman. Blokade ini mulai berlaku efektif pada Senin. Upaya ini praktis membuat kapal-kapal dari seluruh dunia tidak bisa masuk dan keluar dari pelabuhan milik negara mayoritas Islam Syiah tersebut. 

"Pasukan Komando Pusat AS (CENTCOM) akan mulai menerapkan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada tanggal 13 April pukul 10 pagi ET sesuai dengan proklamasi Presiden (Donald Trump)," demikian bunyi pernyataan resmi Pusat Komando AS (CENTCOM) dilansir Anadolu Agency.

CENTCOM menjelaskan, blokade ini akan dilakukan secara adil dan tidak memihak. Artinya, kapal dari negara mana pun akan dilarang untuk masuk dan keluar dari pelabuhan milik Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team