Afrika Selatan memutuskan untuk menarik sekitar 700 personel dari misi MONUSCO sebagai bagian dari konsolidasi internal Angkatan Pertahanan Nasional Afrika Selatan (SANDF). Langkah ini bertujuan untuk mengatasi penurunan kualitas infrastruktur militer dan keterbatasan anggaran yang telah terjadi selama bertahun-tahun. Juru bicara kepresidenan, Vincent Magwenya, menjelaskan bahwa pengalihan sumber daya militer kini diprioritaskan untuk meningkatkan kesiapan tempur dan memperkuat perlindungan perbatasan nasional.
Menteri Pertahanan dan Veteran Militer Afrika Selatan, Angie Motshekga, memberikan teguran keras terhadap kondisi militer saat ini yang mendasari urgensi penarikan tersebut.
"Kenyataan pahitnya adalah bahwa pasukan pertahanan kita saat ini menderita kombinasi berbahaya dari jangkauan strategis yang berlebihan dan pembusukan sistemik, sehingga melanjutkan jalan ini akan menjadi tindakan yang gegabah bagi keselamatan nasional kita," kata Motshekga, dilansir Channel Africa.
Penataan ulang ini akan difokuskan pada pemulihan kapabilitas udara, dukungan logistik, dan fasilitas evakuasi medis yang selama ini terbengkalai akibat beban biaya operasional misi internasional.
Pemerintah Afrika Selatan memastikan proses penarikan dilakukan secara bertanggung jawab melalui koordinasi ketat dengan markas besar PBB guna menjaga stabilitas regional. Selain melakukan modernisasi alat utama sistem persenjataan, pemerintah juga berkomitmen menyelesaikan seluruh proses transisi sesuai jadwal.
"Afrika Selatan akan bekerja sama dengan PBB untuk memfinalisasi lini masa dan modalitas penarikan lainnya, yang akan diselesaikan sepenuhnya sebelum akhir tahun 2026," ujar Presiden Cyril Ramaphosa, dilansir Fidelity.