potret warga Bangladesh (unsplash.com/Bornil Amin)
Pidato perpisahan Yunus disampaikan di tengah kritik terhadap pemerintah interimnya, termasuk terkait penanganan keselamatan minoritas, transisi demokrasi, dan hubungan luar negeri.
Selama masa jabatannya, hubungan Bangladesh dengan India mengalami penurunan signifikan. India sebelumnya menyampaikan kekhawatiran atas serangan terhadap minoritas, terutama komunitas Hindu, di Bangladesh.
Sejumlah analis menilai, hubungan luar negeri Bangladesh selama kepemimpinan Yunus tidak menunjukkan banyak capaian. Direktur Eksekutif lembaga pemikir Centre for Policy Dialogue, Fahmida Khatun mengatakan, ketegangan politik dengan India turut berdampak pada hubungan ekonomi.
“Ketegangan politik dengan India di bawah Yunus merembet ke hubungan ekonomi, sehingga menghambat pelonggaran hambatan tarif dan non-tarif yang dapat meningkatkan perdagangan bilateral,” ujarnya.
Analis hubungan luar negeri Mustafizur Rahman menyebut, hubungan dengan India menjadi tegang, sementara hubungan dengan Pakistan mengalami perkembangan positif secara tiba-tiba tanpa konsensus politik domestik.
Sementara itu, analis keamanan dan politik Nasir Uddin mengatakan, “Apa pun yang ia (Yunus) katakan atau serukan dalam pidato perpisahannya, pemerintahannya, tampaknya dengan upaya yang disengaja, semakin membelah Bangladesh yang sudah terpolarisasi, meninggalkan situasi politik yang rapuh, serta mempromosikan elemen sayap kanan.”
Yunus sendiri pada hari terakhirnya bertemu dengan pejabat birokrasi senior, mengadakan sesi foto bersama staf kantornya, serta menerima kunjungan perpisahan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Waker-Uz-Zaman. Ia menyampaikan terima kasih atas dukungan angkatan bersenjata selama pemilu berlangsung.